Sumbawa

31 Desa Berdaya di Sumbawa Digenjot, Rp9,6 Miliar Jadi “Amunisi” Lawan Kemiskinan

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, memperluas pelaksanaan program Desa Berdaya Tematik dan Transformatif untuk 31 desa/kelurahan di Kabupaten Sumbawa, pada 2026-2027 dengan total anggaran sekitar Rp9,6 miliar. Targetnya, program ini langsung menyasar penguatan ekonomi lokal sekaligus menekan kemiskinan dari level desa.

Asisten III Administrasi Umum Setda Kabupaten Sumbawa, Rachman Ansori mengungkapkan, langkah ini bukan sekadar bantuan. Melainkan, strategi pembangunan berbasis potensi desa.

“Sebanyak 31 desa dan kelurahan ditetapkan sebagai penerima. Ini bagian dari upaya konkret mendorong kemandirian desa sekaligus menekan kemiskinan,” ujar Rachman, Selasa, 28 April 2026.

Dari total tersebut, 29 merupakan desa dan dua lainnya kelurahan. Masing-masing akan menerima sekitar Rp300 juta dengan penggunaan yang fleksibel, mulai dari pengembangan desa wisata, ketahanan pangan, hingga program lingkungan.

“Setiap desa diberi ruang menentukan arah pengembangannya. Kita tidak ingin pendekatan seragam, karena potensi tiap desa berbeda,” jelasnya.

Program Desa Berdaya Tematik berfokus pada penguatan sektor unggulan berbasis lokal, seperti ekonomi kreatif, pertanian, hingga pengelolaan sumber daya alam. Sementara itu, Desa Transformatif khusus untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem.

Bantuan Anggaran untuk Usaha Masyarakat

Pada tahap awal, empat desa masuk kategori transformatif. Setiap keluarga penerima manfaat akan mendapat bantuan sekitar Rp7 juta untuk kegiatan produktif.

“Bantuan ini bukan untuk konsumsi, tetapi untuk usaha. Bisa peternakan, usaha kecil, atau kegiatan ekonomi lainnya,” katanya.

Ia menekankan, keberhasilan program sangat bergantung pada pendampingan yang intensif agar bantuan tidak salah sasaran. “Pendampingan akan terus dilakukan. Kita ingin masyarakat benar-benar naik kelas, bukan sekadar menerima bantuan,” ungkapnya.

Program ini juga akan bersinergi dengan kebijakan pemerintah kabupaten/kota, agar dampaknya lebih terukur dan berkelanjutan. “Sinergi ini penting supaya intervensi tidak tumpang tindih dan hasilnya maksimal,” tambahnya.

Pemprov NTB menargetkan, program ini berjalan bertahap hingga seluruh desa merasakan manfaatnya. Penyaluran anggaran akan segera mulai dengan pengawasan langsung dari pemerintah provinsi dan daerah.

“Harapannya, desa tidak hanya keluar dari kemiskinan, tetapi mampu mandiri dan berkembang sesuai potensinya,” tutupnya. (Marwah)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button