Lombok Timur

Temui Mensos, Bupati Lombok Timur Sampaikan Kendala Sekolah Rakyat dan BPJS

Lombok Timur (NTBSatu) – Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin bersama Sekretaris Daerah (Sekda), Muhammad Juaini Taofik menemui Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf di Jakarta, pada Selasa, 28 April 2026.

Ia melaporkan sejumlah masalah krusial tentang penyelenggaraan program jaminan sosial dan pendidikan kepada Pemerintah Pusat.

Masalah ketersediaan lahan untuk Sekolah Rakyat hingga beban anggaran daerah akibat penonaktifan kepesertaan BPJS Kesehatan, menjadi poin utama dalam audiensi tersebut.

“Jika 130.000 jiwa yang dinonaktifkan itu tidak diambil alih oleh Pemerintah Pusat, maka kami harus menambah anggaran sebesar Rp50 miliar,” ujar Iron, sapaan akrab Bupati Lombok Timur, Selasa, 28 April 2026.

Beban Anggaran BPJS Kesehatan

Bupati Iron menjelaskan, pada tahun 2026, pemerintah daerah sudah meningkatkan alokasi anggaran BPJS dari Rp80 miliar di tahun sebelumnya, naik menjadi Rp90 miliar tahun ini.

Namun, penonaktifan 130 warga dari kepesertaan dianggap semakin memberatkan kondisi APBD jika harus ditanggung sepenuhnya oleh daerah. Mendengar aduan tersebut, Saifullah Yusuf menjelaskan, jika penonaktifan itu berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Langkah ini merupakan cara untuk mendata ulang kriteria warga yang benar-benar layak membutuhkan bantuan dari Pemerintah Pusat. Saat ini, Kementerian Sosial mencatat, sekitar 72 ribu jiwa dari jumlah tersebut sudah kembali aktif karena telah memenuhi kriteria.

Kendala Fasilitas Sekolah Rakyat

Di sisi lain, Pemkab Lombok Timur juga menyoroti hambatan fasilitas pada program Sekolah Rakyat yang sudah berjalan selama dua tahun. Terhitung sudah 100 siswa setara SD masih menumpang di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Lenek, sedangkan 125 siswa setara SMA lainnya belajar di eks Akper Sakra.

Menurut Bupati Iron, permasalahan utama ada pada ketersediaan lahan. Sebelumnya, pemerintah sudah menyiapkan lahan sebesar lima hektare, namun kebutuhan lahan justru meningkat menjadi tujuh hektare.

Meski begitu, Haerul Warisin menegaskan jika daerah berkomitmen untuk tetap menjamin keberlangsungan program pendidikan tersebut.

Sinergi Pusat dan Daerah

Dalam pertemuan tersebut, Saifullah meminta agar pemerintah daerah terus bersinergi dengan pusat, terutama dalam hal pengawasan dan sinkronisasi data. Sedangkan terkait bantuan sosial (bansos), Bupati Iron memastikan, keadaan tersebut relatif aman dan sudah tersalurkan dengan baik kepada masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Mensos menekankan pentingnya akurasi data agar bantuan tidak tumpang tindih. “Saya minta data yang sudah ditanggung pusat agar tidak perlu lagi mendapatkan jatah dari daerah,” jelasnya. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button