Pemerintahan

Menteri Amran: Iran Menutup Selat Hormuz, Indonesia Bisa Tutup CPO

Jakarta (NTBSatu) – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyatakan, Indonesia memiliki kekuatan besar dalam mengendalikan pasar global. Bahkan, dapat mengambil langkah ekstrem seperti yang Iran lakukan dengan menutup Selat Hormuz.

Menurutnya, langkah serupa bisa Indonesia lakukan melalui penutupan ekspor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah. Pernyataan tersebut Amran sampaikan saat menghadiri Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis, 26 Maret 2026.

IKLAN

Ia menegaskan, dominasi Indonesia di pasar CPO dunia menjadi modal kuat untuk memengaruhi perdagangan global. “Kita hilirisasi. Iran menutup Selat Hormuz, kita bisa tutup lebih besar CPO. Kita yang menguasai pasar dunia,” ujar Amran, mengutip unggahan akun YouTube SulawesiPos, Selasa, 31 Maret 2026.

Amran menjelaskan, Indonesia bersama Malaysia menguasai sekitar 80 persen pasokan CPO dunia, dengan kontribusi Indonesia mencapai 60 persen. Dengan kekuatan tersebut, ia meyakini kebijakan hilirisasi dan penghentian ekspor bahan mentah akan memberikan dampak signifikan secara global.

Ia bahkan memperkirakan, jika ekspor CPO mentah sebesar 32 juta ton dihentikan dan seluruhnya diolah di dalam negeri menjadi produk bernilai tambah seperti margarin, maka dunia akan mengalami guncangan besar. “Kalau kita tutup, apa tidak ‘kiamat’ dunia, kiamat kecil?,” katanya.

Sebagai gambaran, kebutuhan CPO di Amerika Serikat mencapai 1,7 juta ton, sementara di kawasan Eropa sekitar 2,3 juta ton.

Hilirisasi Komoditas Kelapa

Selain CPO, Amran juga menyoroti potensi hilirisasi komoditas kelapa. Ia menyebut, selama ini Indonesia masih mengekspor kelapa dalam bentuk mentah dengan nilai sekitar Rp24 triliun.

Padahal, jika Indonesia mengolahnya menjadi produk seperti Virgin Coconut Oil (VCO) dan santan, nilainya bisa meningkat hingga 100 kali lipat.

Menurutnya, tren global di negara seperti China, India, dan Eropa menunjukkan peningkatan konsumsi produk turunan kelapa, termasuk santan dan susu kelapa. “Kalau diolah dari dulu, bisa jadi Rp2.400 triliun,” ujarnya.

Lebih lanjut, Amran juga menyinggung komoditas gambir yang ia sebut menyumbang 80 persen pasokan dunia dari Indonesia. Namun, bahan setengah jadi masih mendominasi ekspor sehingga nilai tambah negara lain yang menikmatinya.

Ia mencontohkan ekspor gambir ke India, yang kemudian diolah dan diekspor kembali ke Amerika Serikat dan Eropa. Menurutnya, hilirisasi gambir berpotensi menghasilkan nilai ekspor hingga Rp5.000 triliun.

Untuk itu, Amran mengaku telah meminta CEO Danantara, Rosan Roeslani serta Kepala BP BUMN, Donny Oskaria agar segera membangun pabrik pengolahan gambir di Medan dan Sumatra Barat, guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. (*)

Alan Ananami

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button