Kenapa Pawai Ogoh-ogoh di Bali Selalu Malam Hari? Ternyata ini Maknanya
Mataram (NTBSatu) – Umat Hindu seluruh Indonesia bersiap menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026.
Perayaan suci tersebut selalu memiliki rangkaian upacara penting sebelum hari hening berlangsung. Salah satu tradisi yang paling menarik perhatian masyarakat, yaitu pawai Ogoh-ogoh pada malam pengerupukan, tepat sehari sebelum Nyepi.
Pawai Ogoh-ogoh selalu menjadi momen yang paling dinanti menjelang Nyepi. Suasana desa berubah meriah karena arak-arakan patung raksasa yang melintasi jalan desa.
Tradisi ini juga membuka ruang kreativitas bagi warga, terutama generasi muda yang tergabung dalam kelompok sekaa teruna. Para pemuda biasanya bekerja sama selama beberapa minggu untuk merancang hingga menyelesaikan Ogoh-ogoh.
Melansir Detik.com pada Selasa, 17 Maret 2026, Ogoh-ogoh merupakan karya seni berbentuk patung besar dengan rangka bambu serta berbagai bahan tambahan seperti kertas dan kain.
Bentuknya sering menggambarkan sosok raksasa atau buta kala dengan wajah menyeramkan, mata melotot, taring tajam, serta kuku panjang. Wujud tersebut melambangkan sifat negatif yang ada dalam diri manusia.
Arak-arakan Ogoh-ogoh berlangsung pada malam pengerupukan yang juga bertepatan dengan Tilem Kesanga. Patung tersebut berkeliling desa sebagai simbol penyerapan energi negatif yang berada pada lingkungan sekitar. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan spiritual menjelang Nyepi.
Sebelum pawai berlangsung, umat Hindu terlebih dahulu melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga pada siang hari atau tengai tepet. Ritual tersebut bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, serta kekuatan spiritual.
Kenapa Pawai Ogoh-ogoh di Bali Dilaksanakan Malam Hari?
Arak-arakan Ogoh-ogoh berlangsung pada senja hingga malam karena waktu tersebut memiliki makna simbolis dalam kepercayaan Hindu Bali. Malam hari dipercaya sebagai waktu ketika Bhuta Kala berkeliaran, sehingga masyarakat memilih momen tersebut untuk menetralisir energi negatif.
Ogoh-ogoh yang melambangkan sifat gelap manusia seperti keserakahan dan kemarahan kemudian berkeliling desa sebelum proses pralina atau pembakaran. Pembakaran Ogoh-ogoh melambangkan pemusnahan energi buruk.
Setelah rangkaian tersebut selesai, umat Hindu menjalani Hari Raya Nyepi dengan keheningan melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian. (*)



