Aktivitas PKL Saat Ramadan Picu Kenaikan Sampah Harian Kota Mataram
Mataram (NTBSatu) – Aktivitas pedagang kaki lima (PKL) musiman yang menjamur selama bulan Ramadan turut memicu peningkatan volume sampah harian di Kota Mataram.
Lonjakan sampah ini terutama berasal dari sisa makanan, kemasan takjil, hingga limbah dagangan yang ditinggalkan di sekitar lokasi berjualan.
Sejumlah titik keramaian seperti Jalan Majapahit hingga kawasan Eks Bandara Selaparang menjadi lokasi yang paling terdampak.
Di tempat-tempat tersebut, sisa konsumsi warga kerap berserakan di trotoar bahkan masuk ke saluran drainase.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Widiahning, mengatakan fenomena meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan membuat volume sampah ikut bertambah.
“Selama Ramadan masyarakat cenderung lebih konsumtif, terutama untuk makanan dan minuman berbuka. Sementara kami di PU fokus pada penanganan saluran drainase. Kalau sampah sudah masuk ke saluran, tentu kami juga harus turun membersihkannya,” ujarnya, Minggu, 8 Maret 2026.
Menurutnya, salah satu jenis sampah yang paling sulit ditangani adalah batok kelapa dari pedagang es kelapa muda yang banyak dijual di lokasi PKL.
“Batok kelapa ini jumlahnya sangat banyak. Di satu titik penjual saja bisa menumpuk cukup banyak, belum lagi di titik lainnya. Kalau tidak segera kita bersihkan, bisa terbawa ke saluran air,” katanya.
Meski terjadi peningkatan sampah selama Ramadan, Dinas PUPR memastikan tidak ada penambahan jumlah petugas kebersihan. Personel yang ada saat ini harus memaksimalkan tenaga untuk menjaga saluran air tetap bersih dan tidak tersumbat.
Hasilkan 5 Ton Sampah Per Hari
Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram mencatat adanya peningkatan volume sampah harian selama bulan puasa. Perkiraan tambahan sampah mencapai sekitar 5 ton per hari.
Kepala DLH Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, mengatakan lonjakan ini tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas masyarakat serta maraknya pedagang musiman selama Ramadan.
“Kalau di hari biasa volume sampah sekitar 250 ton per hari. Selama Ramadan biasanya ada tambahan sekitar 5 ton per hari, terutama dari aktivitas pasar takjil dan PKL,” jelasnya.
Pemerintah Kota Mataram mengimbau para pedagang dan masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah-sampah tersebut. Jika terjadi pembiaran dan berserakan di trotoar atau masuk ke saluran air, khawatirnya kondisi tersebut dapat memicu penyumbatan drainase hingga meningkatkan risiko banjir saat hujan turun.
DLH pun menyiagakan petugas kebersihan untuk melakukan pengangkutan sampah secara optimal, khususnya di titik-titik keramaian pedagang.
“Kami tetap jalankan pola pengangkutan pagi dan malam. Petugas juga fokus membersihkan area pasar takjil setelah aktivitas jual beli selesai supaya sampah tidak menumpuk,” ujarnya. (*)



