NATO Tembak Jatuh Rudal Iran yang Nyaris Tembus Wilayah Turki
Jakarta (NTBSatu) – Sistem pertahanan udara aliansi militer NATO, menghancurkan sebuah rudal balistik Iran yang mengarah ke wilayah udara Turki pada Rabu, 4 Maret 2026.
Kementerian Pertahanan Turki melaporkan, rudal tersebut terdeteksi melintas melalui wilayah Irak dan Suriah. Sebelum akhirnya dicegat oleh sistem pertahanan udara dan rudal NATO, yang ditempatkan di kawasan Laut Mediterania bagian timur.
Pemerintah Turki menegaskan, akan mengambil langkah untuk melindungi kedaulatan wilayah dan ruang udaranya menyusul insiden tersebut.
“Semua langkah yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah dan ruang udara kami akan diambil,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Turki, mengutip Reuters, Kamis, 5 Maret 2026.
Pernyataan itu juga menegaskan, Ankara memiliki hak untuk merespons setiap tindakan yang dianggap sebagai permusuhan. Hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun korban luka akibat insiden rudal tersebut.
Turki juga menyatakan, akan berkonsultasi dengan NATO dan negara sekutu lainnya guna membahas langkah lanjutan terkait peristiwa tersebut. Perkembangan situasi ini berpotensi mendorong Ankara untuk menggunakan Pasal 4 NATO.
Pasal 4 dalam NATO menyebutkan, negara anggota dapat meminta konsultasi bersama apabila integritas teritorial, kemerdekaan politik, atau keamanan salah satu anggota dinilai terancam.
Apabila pasal tersebut benar-benar diaktifkan, situasi dapat berkembang lebih jauh hingga berpotensi memicu penggunaan Pasal 5 NATO. Isinya, serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota aliansi.
Namun, hingga kini Pemerintah Turki belum memberikan komentar resmi mengenai kemungkinan penggunaan Pasal 4 tersebut.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Peter Hegseth menegaskan, belum ada indikasi Pasal 5 NATO akan digunakan terkait insiden tersebut.
Sumber diplomatik Turki juga menyebutkan, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan telah menyampaikan protes kepada Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi melalui sambungan telepon setelah kejadian itu.
Ketegangan di Kawasan Timur Tengah
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, setelah konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps dilaporkan membalas serangan, dengan menargetkan berbagai aset militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan tersebut.
Amerika Serikat sendiri memiliki pangkalan militer di wilayah Incirlik, Turki Selatan yang berbatasan dengan Provinsi Hatay.
Ketegangan di kawasan meningkat tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, pada 28 Februari lalu.
Iran kemudian membalas serangan tersebut pada hari yang sama. Hingga kini kedua pihak masih terus terlibat aksi saling serang yang menimbulkan korban jiwa.
Sebelum konflik terbuka pecah, Turki sempat berupaya menjadi mediator antara pihak-pihak yang bertikai guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. (*)



