Kota Bima

Kasus Suspek Campak Tembus 336 Anak, Pemkot Bima Perluas Vaksinasi Tambahan

Mataram (NTBSatu) – Kasus suspek campak di Kota Bima terus bertambah sejak akhir 2025 hingga awal Maret 2026. Kasus campak menunjukkan, tren kenaikan tajam dalam kurun waktu empat bulan terakhir dan memunculkan kekhawatiran terhadap potensi penularan yang lebih luas.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bima, Syarifuddin, S.Sos., M.PH., menyampaikan rekapitulasi data memperlihatkan peningkatan bertahap setiap bulan. Pada November tercatat 19 kasus campak. Jumlah tersebut naik menjadi 30 kasus pada Desember. Januari menghadirkan lonjakan signifikan hingga 161 kasus.

Memasuki pertengahan Februari, angka bergerak pada kisaran 280 sampai 333 kasus. Awal Maret 2026 menegaskan total 336 anak terlapor sebagai suspek campak.

Cakupan imunisasi campak yang belum merata turut meningkatkan potensi penyebaran penyakit. Selain itu, asupan gizi anak yang belum terpenuhi secara optimal menyebabkan daya tahan tubuh melemah sehingga anak lebih mudah terinfeksi virus campak.

IKLAN

“Rendahnya cakupan vaksinasi campak menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko penularan. Selain itu, kondisi gizi anak yang kurang juga membuat mereka lebih rentan terpapar,” ungkapnya pada Rabu, 4 Maret 2026.

Peningkatan kasus tidak hanya menjadi perhatian tingkat daerah, tetapi juga masuk dalam isu nasional karena tren campak muncul pada sejumlah wilayah lain. Pemerintah Kota Bima pun menilai situasi ini membutuhkan langkah terstruktur dan terukur agar penularan tidak meluas.

Pemkot Bima Genjot Vaksinasi Tambahan SIA

Menanggapi perkembangan kasus, Pemerintah Kota (Pemkot) Bima memutuskan memperluas pelaksanaan vaksinasi tambahan melalui program Supplementary Immunization Activities (SIA) sesuai rekomendasi World Health Organization (WHO). Program ini menargetkan kelompok anak dengan risiko tinggi guna membentuk kekebalan kelompok dan menekan laju penyebaran.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bima, Drs. H. M. Fakhrunraji, M.E., meminta seluruh perangkat daerah melakukan pemetaan kasus hingga tingkat kelurahan. Ia menilai, pemetaan detail akan membantu penentuan langkah intervensi secara cepat dan tepat sasaran.

“Penanganan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Kita harus bersinergi dan berkolaborasi, mulai dari pemerintah daerah, puskesmas, posyandu, hingga perangkat kelurahan. Edukasi kepada orang tua juga menjadi kunci agar anak-anak kita mendapatkan perlindungan imunisasi secara lengkap,” tegasnya.

Melalui percepatan vaksinasi SIA dan penguatan koordinasi lintas sektor, Pemkot Bima menargetkan pengendalian kasus dalam waktu dekat serta perlindungan maksimal bagi anak-anak dari ancaman campak. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button