INTERNASIONAL

Rekam Jejak 47 Tahun Konflik Iran dan Israel

Mataram (NTBSatu) – Kondisi keamanan di Timur Tengah sedang berada di titik terendah selama empat dekade terakhir. Sejak Revolusi Islam tahun 1979, hubungan Iran dan Israel bergeser dari mitra strategis menjadi musuh eksistensial.

Selama ini, kedua negara berada dalam perang bayangan melalui tangan proksi dan operasi intelijen senyap. Pada pertengahan 2024 hingga awal 2026, menandai era diplomasi yang terang-terangan.

IKLAN

Saat ini, mereka tidak hanya sekadar saling sindir tetapi sudah melakukan adu rudal balistik dan jet tempur di langit. Dalam sejarah berdasarkan Global Firepower 2026, perseteruan antara Iran dan Israel terbagi dalam beberapa babak penting yang makin panas:

1. Fase Perang Proksi (1979 – 2010)

Pada 1979, Iran secara resmi memutus hubungan diplomatik dengan Israel. Ia kemudian mulai membangun jejaring organisasi di beberapa kawasan, salah satunya Hizbullah di Lebanon pada 1982.

Respon Israel justru dengan melakukan operasi militer di Lebanon Selatan. Fase ini, perang terjadi secara fisik, namun tidak melibatkan tentara reguler kedua negara secara langsung di perbatasan.

2. Fase Sabotase dan Intelijen (2010 – 2023)

Selanjutnya, beralih pada program nuklir Iran. Israel dituding melakukan serangan siber secara terus menerus hingga membunuh ilmuwan nuklir di pusat Teheran.

Iran akhirnya memutuskan memberikan dukungan persenjataan ke Hamas dan Jihad Islam. Meski konflik ini menjadi perang dingin, namun sangat mematikan di level intelligent selama 13 tahun.

3. Transisi Serangan Langsung (April 2024)

Konflik fisik langsung yang pertama dalam sejarah terjadi pada 13 April 2024. Iran meluncurkan lebih dari 300 drone dan rudal balistik ke wilayah Israel.

Aksi ini merupakan serangan balasan dari Iran, setelah Israel melakukan pengeboman konsulat di wilayah Damaskus. Meski sebagian besar serangan dan ancaman Iran berhasil dijatuhkan oleh sistem pertahanan Israel, insiden ini justru menghancurkan tabu serangan antar wilayah.

4. Puncak Konflik (2025 – Maret 2026)

Sejak periode 2025, frekuensi serangan udara antar negara meningkat tajam. Awal 2026, ketegangan mencapai level kritis, menyusul operasi udara terhadap instalasi militer di Teheran dan Isfahan.

Serangan Israel pada 1 Maret 2026, dikonfirmasi menelan korban jiwa di pihak militer senior Iran, Ali Khamenei. Alasan ini memicu mobilisasi pasukan cadangan, dalam skala yang paling besar.

Konflik antara Iran dan Israel menjadi benturan doktrin keamanan. Di sisi Israel, mencegah Iran menjadi kekuatan nuklir adalah harga mati. Sebaliknya, bagi Iran, menunjukkan kekuatan militer, adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan kedaulatan, dari pengaruh Barat di Timur Tengah.

Perang antar kedua negara akan memicu harga minyak dunia melonjak, karena Iran menguasai jalur distribusi minyak di Selat Hormuz. Dampaknya akan dirasakan secara perlahan melalui kenaikan BBM dan kebutuhan pokok, di seluruh dunia. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button