Politik

Dewan Usulkan Gerakan Tanam Kemiri untuk Selamatkan Hutan Bima

Mataram (NTBSatu) – Anggota DPRD NTB, Muhammad Aminurlah mendorong inisiatif penanaman pohon Kemiri secara berkelanjutan. Hal ini sebagai langkah strategis untuk memulihkan kawasan hutan kritis di Kabupaten Bima, yang terus mengalami degradasi.

Menurut Aminurlah, rusaknya tutupan hutan di wilayah pegunungan dan Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi faktor utama meningkatnya risiko bencana alam. Seperti, banjir dan tanah longsor yang kerap terjadi di Bima dalam beberapa tahun terakhir.

“Pemulihan hutan Kemiri di kawasan yang sudah gundul adalah sebuah keharusan. Ini bukan semata-mata soal lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan hidup dan ekonomi masyarakat ke depan,” ujarnya, Senin, 19 Januari 2026.

Aminurlah mengungkapkan, hasil pemantauan langsung yang ia lakukan di sejumlah wilayah seperti Kecamatan Wawo, Ambalawi, Parado, Lambitu, hingga kawasan pegunungan lainnya menunjukkan aktivitas pembukaan lahan masih berlangsung dan cenderung meluas.

IKLAN

“Saya melihat langsung kondisi gunung dan aliran sungai. Pembabatan hutan terus terjadi. Jika tidak segera ditangani, bencana akan terus berulang,” ujar politisi yang kerap disapa Maman tersebut.

Ia memperkirakan, luas kawasan hutan yang mengalami kerusakan di wilayah tersebut mencapai sekitar 800 hektare. Karena itu, upaya rehabilitasi hutan harus secara menyeluruh dan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama.

Usulkan Program Penyaluran Bibit Kemiri

Maman mendorong pemerintah daerah bersama DPRD NTB, untuk merancang program penyaluran bibit Kemiri secara rutin ke desa-desa yang berada di kawasan rawan bencana.

“Tanaman Kemiri bisa menjadi bagian dari ekonomi hijau. Alam terjaga, masyarakat pun mendapatkan manfaat ekonomi,” tutur legislator dari PAN tersebut.

Melalui program Pokok-pokok Pikiran (Pokir), ia mengaku telah memulai gerakan tanam Kemiri dengan menyalurkan sekitar 19 ribu bibit ke wilayah Kecamatan Wawo, Parado, dan Lambitu.

“Musim hujan seperti sekarang adalah waktu paling ideal untuk menanam Kemiri di kawasan pegunungan yang sudah gundul,” jelasnya.

Ia menambahkan, selain berfungsi menjaga struktur tanah dan keseimbangan ekosistem, Kemiri juga memiliki nilai jual tinggi. Serta, berpotensi dikembangkan sebagai komoditas unggulan daerah.

“Harapannya, gerakan ini menjadi titik awal kebangkitan lingkungan dan ekonomi masyarakat Bima. Sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjaga hutan demi generasi mendatang,” tambahnya. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button