Helminth Gelar Penyuluhan untuk Tekan Angka Prevalensi Cacingan di KLU
Lombok Utara (NTBSatu) – Kasus cacingan di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih banyak ditemukan. Hal ini akibat rendahnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Kondisi tersebut yang menjadi dasar kegiatan Health Educational Learning for Managing Intestinal Helminths (Helminth) pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat rumah tangga yang memiliki sanitasi yang layak di Lombok Utara mencapai 84,72 persen. Angka ini menunjukkan di bawah jumlah rata-rata NTB, yakni 85,11 persen.
Anga tersebut dibuktikan dengan data dari tahun 2021 yang menunjukkan persentase warga yang masih membuang BAB sembarangan yang tinggi, yaitu 21 persen.
Menurut Wakil Ketua Panitia Helminth, I Gde Wikan Pradayan Amadya, salah satu faktor utama terjadinya pencemaran tanah yang berperan besar dalam penularan cacing adalah pembuangan feses di lingkungan terbuka.
“Pembuangan feses di lingkungan terbuka, terutama feses penderita kecacingan, merupakan salah satu faktor utama terjadinya pencemaran tanah yang berperan besar dalam penularan cacing,” terang kepada NTBSatu, Sabtu, 17 Januari 2026.
Selain itu, berdasarkan data penelitian terdahulu tentang kecacingan di Lombok Utara, khususnya di SDN 1,2 dan 3 Malaka pada 2019. Hasilnya, 30,67 persen dari 75 siswa menderita penyakit cacingan dengan 91,4 persen berasal dari golongan Trichuris trichiura. Data tersebut kemudian menjadi acuan dari kegiatan penyuluhan ini.
“Dari data itu, kami jadikan rujukan awal tingkat kecacingan di Lombok Utara tinggi. Khususnya, pada anak-anak yang sering bermain di tanah dan belum sepenuhnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” ujarnya.
Beri Bekal Pencegahan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membekali anak-anak SD di KLU tentang penyakit cacingan dan mengetahui gejala, serta cara pencegahannya.
Adapun rangkaian kegiatannya meliputi, penyuluhan kesehatan, Workshop Handwashing Hero, dan Healthy Habit Station.
Wikan berharap, kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjangkau area lain untuk pengedukasian tentang kecacingan dan PHBS.
“Melibatkan lebih banyak pihak, seperti sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat setempat. Sehingga, dapat mendukung program pemerintah dalam menurunkan angka kecacingan secara jangka panjang,” harapnya. (Marwati)


