Sumbawa

Pemkab Sumbawa Soroti Ancaman Sedimentasi di Teluk Saleh

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa memberi perhatian serius terhadap peningkatan sedimentasi di kawasan Teluk Saleh. Kondisi tersebut mulai mengancam ekosistem laut, terutama terumbu karang dan kualitas perairan.

Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heriwibowo menyampaikan, hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan laju sedimentasi di Teluk Saleh meningkat cukup signifikan.

Ia mengatakan, tim peneliti BRIN mengambil sampel langsung di lapangan dan memanfaatkan citra satelit untuk memetakan kondisi perairan.

IKLAN

“BRIN mengonfirmasi laju sedimentasi meningkat signifikan. Namun mereka belum menyimpulkan, apakah 10 tahun lagi Teluk Saleh akan tertutup atau rusak total. Yang jelas, dampaknya perlu kita waspadai,” ujar Dedy kepada NTBSatu, Rabu, 13 April 2026.

Ia menjelaskan, sedimentasi menutup terumbu karang dengan lumpur sehingga memicu kerusakan habitat biota laut. Selain itu, sedimentasi menurunkan kualitas air, terutama saat musim hujan.

Menurut Dedy, aliran air dari wilayah hulu membawa material sedimen yang diduga mengandung sisa pestisida dan zat kimia pertanian lainnya.

IKLAN

“Hasil penelitian menemukan sedimentasi berkumpul di mulut Teluk Saleh, khususnya di cekungan antara Sumbawa dan Dompu. Pola arus laut memengaruhi penumpukan material di wilayah tersebut,” jelasnya.

Dedy menilai, aktivitas penanaman jagung monokultur di kawasan hulu dan lereng curam ikut memicu tingginya sedimentasi. Tanaman jagung tidak mampu menahan aliran air secara optimal, sehingga erosi meningkat saat hujan turun.

Dorong Mitigasi Jangka Panjang

Ia menambahkan, melalui program Sumbawa Hijau Lestari, Pemkab Sumbawa terus mendorong langkah mitigasi jangka panjang. Pemerintah juga menerbitkan surat edaran bupati yang melarang penanaman jagung di kawasan hutan.

“Kami ingin mengembalikan tegakan pohon besar di kawasan hutan agar mampu menahan erosi,” katanya.

Selain penghijauan, pemerintah mulai mendorong penerapan sistem terasering pada lahan pertanian dengan tingkat kemiringan di atas 15 persen. Pola tersebut dinilai mampu mengurangi aliran permukaan yang menjadi penyebab utama erosi.

“Pemerintah perlu menggerakkan penyuluh pertanian dan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat agar pola tanam di daerah miring menggunakan sistem terasering,” tambahnya.

Saat ini, lanjutnya, Pemkab Sumbawa bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB dan pihak konservasi Indonesia merampungkan tahap akhir pembentukan kawasan konservasi berbasis spesies hiu paus di Teluk Saleh.

Dedy mengatakan, proses penentuan batas kawasan dan sosialisasi kepada masyarakat sudah selesai. Pemkab kini menunggu penetapan resmi dari kementerian terkait.

“Kalau kawasan konservasi ini sudah resmi, pengelolaan kawasan akan memiliki aturan yang lebih jelas. Namun yang paling penting tetap kesadaran masyarakat melalui edukasi dan penyediaan alternatif ekonomi berkelanjutan,” tambahnya. (*)

Artikel Terkait

Back to top button