Tak Dibuang ke TPS, Sampah Organik MBG di Mataram Dialihkan ke Peternak Babi
Mataram (NTBSatu) – Beban sampah harian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), kian mengkhawatirkan dengan jumlah yang mencapai ratusan ton. Hal ini menjadi ancaman baru bagi Kota Mataram di tengah persoalan sampah yang tak kunjung usai.
Merespons hal tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mataram Barat I berkolaborasi dengan peternak babi untuk mengelola sisa makanan.
Kepala SPPG Mataram Barat I, Abdul Muta Alli Anwar menjelaskan, pihaknya mendistribusikan sampah sisa makanan MBG kepada peternak hewan, salah satunya peternak babi. Menurutnya, melalui kolaborasi ini volume sampah sisa makanan dapat ditekan tanpa harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS).
“Kami bekerja sama dengan peternak hewan seperti peternak babi,” jelasnya kepada NTBSatu, Rabu, 14 Januari 2026.
Tak hanya peternak babi, ia menyebutkan, pihaknya juga mendistribusikan sampah sisa kepada relawan yang memiliki hewan ternak untuk pakan.
Secara keseluruhan, sampah sisa MBG di SPPG Mataram Barat I tercatat menyentuh angka 22 kilogram per hari. Lebih dari setengah jumlah tersebut sampah sisa makanan (organik) sebanyak 15 kilogram, sedangkan sampah anorganik 7 kilogram.
Sementara itu, untuk pengelolaan sampah anorganik, pihak SPPG bekerja sama dengan pengepul untuk menjualnya. “Seperti kardus dan plastik sisa itu, kita bawa ke penadah barang rongsokan,” ujarnya.
Abdul menegaskan, upaya pengelolaan sampah ini merupakan bentuk dukungan terhadap regulasi Kota Mataram terkait penanganan sampah. Ia juga mengaku, sempat memiliki wacana inovasi pengelolaan sampah mandiri, namun terkendala oleh petunjuk teknis (juknis) SPPG.
“Untuk melakukan inovasi segala macam, kami terkendala dengan aturan,” ucapnya.
Ia mengungkapkan, pengelolaan sampah yang terlalu dekat dengan wilayah dapur dapat menimbulkan kontaminasi silang yang membahayakan makanan.
“Kami khawatir jika melakukan pengelolaan sampah di lokasi (dapur), akan ada potensi kontaminasi silang,” tutupnya. (Salsa)



