Kota Mataram

Profil PPH Van Ham, Jenderal Tertinggi Belanda yang Gugur di Tangan Pasukan Lombok

Mataram (NTBSatu) – Nama Mayor Jenderal Petrus Paulus Hermannus (PPH) Van Ham, memiliki kisah kelam dalam catatan Hindia-Belanda. Pada 1894, sebagai Wakil Panglima Ekspedisi militer Belanda diperintahkan menaklukkan kerajaan Lombok.

Supremasi militer Eropa mendapat pukulan keras setelah gugurnya Van Ham. Padahal, posisinya saat itu cukup strategis dan bisa Pemerintah Belanda andalkan.

Kehidupan Jenderal PPH Van Ham yang berakhir tragis dan hanya menyisakan kuburan di Mataram, tentunya membuat banyak yang penasaran dengan sosoknya.

Profil Singkat Jenderal PPH Van Ham

Van Ham terkenal karena pengabdiannya pada masa ekspansi besar-besaran kolonial Hindia Belanda. Sebelum gugur di perang Lombok, perwira ini terkenal sebagai sosok cerdas, ahli strategi dan memiliki karier cemerlang.

IKLAN

Nama lengkap: Petrus Paulus Hermannus Van Ham;

Tempat, tanggal lahir: Breda, Belanda, 7 Maret 1839;

Pangkat terakhir: Mayor Jenderal (Anumerta);

Jabatan terakhir: Wakil Panglima Ekspedisi Militer Belanda ke Lombok (Kepala Staf).

Karier Militer Jenderal PPH Van Ham

Van Ham merupakan lulusan dari Royal Military Academy (KMA) di Breda. Karier yang cemerlang di Belanda, membuat namanya sangat disegani.

Beberapa ekspedisi juga pernah ia lakukan di Indonesia, seperti perang Aceh, perang Batavia, hingga menjadi pengurus logistik untuk pasukan dalam jumlah besar.

Perang Lombok yang Libatkan Van Ham

Van Ham menjadi orang kepercayaan Jenderal J.A. Vetter. Mereka sampai di Pelabuhan Ampenan pada 5 Juli 1894.

Datangnya pemerintahan Hindia Belanda ke Lombok, salah satunya untuk menaklukkan pusat kekuasaan di Cakranegara. Pemerintah mempercayai Van Ham bisa menduduki wilayah ini dengan mudah.

Namun sayang, dalam pertempuran antara Van Ham dan Kerajaan Mataram, justru menjadi bumerang dan menewaskannya dalam perang gerilya kota.

Pada tanggal 25 hingga 26 Agustus 1894, pasukan Van Ham berhasil dikepung (Lombok-insult). Ironisnya, ketika pengepungan di Cakranegara, ia tertembak di bagian perut.

Kejadian tersebut membuat Van Ham menghembuskan nafas terakhir pada 26 Agustus 1894, saat masih berusia 55 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Kerkhof Karang Jangkong, Mataram, NTB.

Kematian Van Ham membuat Belanda sangat berduka. Meski menjadi kebanggaan negaranya, ia merupakan sosok perlawanan sengit di Lombok. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button