Tren S Line Bikin Geger, Lelucon Anak Zaman Sekarang atau Ajang Umbar Aib?

Mataram (NTBSatu) – Media sosial sedang dihebohkan dengan tren baru bernama “S Line”, yang kini tengah viral di kalangan generasi muda.
Tren ini mencuat usai munculnya sebuah drama Korea adaptasi Webtoon berjudul S Line. Drama tersebut mengangkat kisah seorang siswi SMA yang memiliki kemampuan melihat garis merah di atas kepala orang-orang, yang pernah melakukan hubungan seksual.
Konsep fiktif ini warganet adopsi secara nyata, melalui unggahan foto dengan efek visual garis merah yang tampak mengarah dari kepala mereka. Tren ini dengan cepat menyebar dan menjadi perbincangan hangat di platform, seperti TikTok dan Instagram.
Banyak pengguna sengaja menampilkan garis tersebut dalam konten mereka sebagai bentuk partisipasi tren, bahkan berlomba-lomba untuk menunjukkan “tingkat” pengalaman masing-masing.
Hal ini memicu reaksi yang sangat beragam dari masyarakat. Sejumlah warganet menyayangkan tren tersebut karena menganggap merendahkan nilai moral. Kemudian, menunjukkan kecenderungan generasi muda untuk mengumbar privasi pribadi demi sensasi.
Beberapa pihak menilai, tren ini merupakan bentuk candaan yang tidak pantas dan berpotensi menormalisasi perilaku bebas secara seksual.
Bukan hanya itu, banyak pula yang menilai bahwa tren ini mencerminkan krisis etika di era digital. Sebab, aib bukan lagi sesuatu yang disembunyikan, melainkan menjadi kebanggaan yang dipertontonkan secara terbuka.
Tanggapan Masyarakat
Sebuah unggahan dari akun TikTok @inilah.com memperlihatkan, banyaknya pengguna yang mengikuti tren ini tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Di kolom komentar, terlihat banyak reaksi kritis dari netizen. Salah satu komentar mempertanyakan apakah para pengguna benar-benar memahami makna di balik S Line, atau hanya sekadar fomo ikut-ikutan demi viralitas.
“Ini orang pada fomo sampe ga tau S Line itu apa. Atau emang udah tau dan mereka sengaja ngikutin terus ngebuka aibnya sendiri?,” tulis akun @starsindah dengan penuh tanya.
Lebih jauh, banyak warganet mengungkapkan keprihatinan mereka. Menurutnya, perubahan zaman telah membuat sesuatu yang dulu memalukan kini menjadi hal yang membuat bangga.
“Bahkan bukan lagi aib tetapi suatu kebanggaan, miris,” komentar akun @Dika.
“Zaman sekarang keburukan seperti hal yang biasa. Beda banget kayak orang dulu, kalo punya keburukan disembunyikan biar gak malu. Tapi anak-anak zaman sekarang mengira itu sangat keren,” tambah akun @user1987.
Tren ini pun memunculkan perdebatan serius mengenai batas antara hiburan, tren digital, dan kehormatan diri. (*)