Sumbawa

Program Kelas Remaja yang Diberhentikan Dinilai Ampuh Bongkar Masalah Remaja di Sumbawa

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa menilai, program kelas remaja yang pernah berjalan sekitar tahun 2010 merupakan salah satu pendekatan efektif untuk mengungkap persoalan nyata yang generasi muda hadapi. Mulai dari kesehatan reproduksi hingga perilaku berisiko. Program tersebut kini dinilai layak dihidupkan kembali dengan pendekatan yang lebih komprehensif.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, dr. Abadi Abdullah mengatakan, kelas remaja pada masa itu sebagai ruang edukasi. Sekaligus ruang dialog bagi pelajar tingkat SD hingga SMA, untuk membahas persoalan kesehatan dan perkembangan remaja secara terbuka.

IKLAN

“Kelas remaja ini dulu diberikan kepada anak usia sekolah, mulai dari SD, SMP sampai SMA. Mereka dipertemukan dalam satu kelas dan dibimbing oleh fasilitator dari tenaga kesehatan,” ujar Abadi, Selasa, 10 Maret 2026.

IKLAN

Dalam pelaksanaannya, peserta mengikuti pertemuan sebanyak empat kali dengan berbagai materi edukasi. Salah satu sesi bahkan melibatkan orang tua untuk memperkuat komunikasi dalam keluarga.

IKLAN

“Mereka bertemu empat kali dalam satu program. Salah satu pertemuan itu melibatkan orang tua, sehingga orang tua bisa melihat langsung proses dan perkembangan anaknya,” jelasnya.

Menurut Abadi, kelas remaja tidak hanya berisi penyuluhan kesehatan. Tetapi juga aktivitas interaktif, yang membuat remaja berani menyampaikan persoalan yang mereka alami.

“Di kelas remaja itu ada permainan dan diskusi yang membuat mereka lebih terbuka. Dari situ justru kita bisa melihat potret masalah remaja yang sebenarnya,” katanya.

Ia menilai, pendekatan tersebut sangat efektif karena langsung mendapatkan informasi dari remaja itu sendiri. “Sering kali justru remaja sendiri yang memberitahu kita apa masalah yang sebenarnya terjadi di lingkungan mereka, termasuk perilaku berisiko seperti seks bebas atau masalah pergaulan,” ungkapnya.

Alasan Program Berhenti

Abadi mengaku, tidak mengetahui secara pasti alasan program tersebut tidak lagi berjalan. Namun, menduga faktor anggaran menjadi salah satu penyebabnya.

“Saya juga tidak tahu kenapa program ini kemudian tidak berjalan lagi. Kemungkinan karena keterbatasan anggaran atau kebijakan program yang berubah,” ujarnya.

Ia menilai jika program tersebut berjalan kembali, pendekatannya bisa lebih luas dengan melibatkan berbagai instansi lintas sektor. “Misalnya Dinas Pendidikan untuk penguatan karakter, Kementerian Agama untuk pembinaan rohani, dan kesehatan tetap pada aspek kesehatannya,” katanya.

Selain kesehatan reproduksi, Abadi juga menilai pendekatan baru perlu memasukkan isu kesehatan mental yang kini menjadi perhatian penting dalam perkembangan remaja.

“Dulu fokusnya lebih banyak pada kesehatan reproduksi. Ke depan, aspek kesehatan jiwa juga harus menjadi perhatian karena tantangan remaja sekarang jauh lebih kompleks,” jelasnya.

Ia berharap, konsep kelas remaja dapat kembali dikembangkan sebagai ruang dialog yang aman bagi generasi muda untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi.

“Kelas remaja sebenarnya sangat bagus karena di situ remaja bisa berbagi, berdiskusi, dan kita bisa memahami persoalan mereka secara langsung,” tutupnya. (Marwah)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button