Literasi NTB Terancam Jalan di Tempat, Digitalisasi Perpustakaan Jadi Strategi Keberlanjutan
Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
Sebagai langkah konkret, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB mendorong kolaborasi lintas sektor. Termasuk dengan dinas terkait, media, tokoh budaya hingga akademisi, agar literasi tidak hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi gerakan bersama.
Fokus utama program pada pelajar dari semua jenjang pendidikan. Ashari menyebut, kelompok ini sebagai target karena fondasi masa depan daerah yang harus pemerintah selamatkan dari rendahnya budaya membaca.
“Target kita terutama anak-anak pelajar dari SD hingga SMA dan sederajat. Bagaimana mereka memiliki motivasi membaca yang betul-betul riil. Dorongan ini sangat mendasar dan mendesak,” ujarnya.
Salah satu gagasan yang tengah dinas dorong adalah kewajiban membaca minimal 20 hingga 25 buku di luar silabus pendidikan selama masa sekolah.
Kebijakan ini harapannya mampu memperluas wawasan siswa. Tidak hanya melalui buku umum nasional, tetapi juga bacaan lokal yang memperkenalkan konteks sosial dan budaya di NTB.
“Buku lokal penting agar anak-anak memahami jendela ke-NTB-an. Tapi setiap buku apakah lokal atau nasional itu semua akan kita berikan motivasi, dorongan,” jelasnya.
Ke depan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB akan menindaklanjuti program digitalisasi dengan kebijakan implementatif dan evaluasi berkelanjutan. Termasuk, mendorong pemerintah Provinsi NTB untuk ikut serta mendukung kebijakannya.
“Sehingga nanti di luar ini juga, kita harapkan ini ada kebijakan-kebijakan Gubernur untuk menindaklanjuti bagaimana program ini. Supaya, anak-anak kita di sekolah ini lebih termotivasi,” tambahnya.
Selain mendorong perubahan perilaku literasi, digitalisasi juga untuk melindungi koleksi perpustakaan dari risiko kerusakan. Langkah ini dipercepat menyusul banjir besar pada Juli 2025 yang merusak dan menghilangkan sejumlah koleksi penting, termasuk arsip surat kabar lokal dan naskah bernilai sejarah daerah. (Alwi)



