Kota Mataram

Pesisir Ampenan “Diamuk” Abrasi, Penanganan Darurat Dikebut di Tengah Kekhawatiran Warga

Bertahan dengan Uang Pinjaman 

Staf Kelurahan Bintaro, Parhanudin mengungkapkan, berdasarkan pendataan terkini, sedikitnya 20 rumah mengalami kerusakan berat.

“Sebanyak 18 rumah di kawasan pinggir Pantai Bugis rusak akibat terjangan gelombang, ditambah dua rumah di Pondok Perasi. Total ada 20 rumah yang mengalami kerusakan fisik serius,” ujar Parhanudin saat memantau lokasi, Kamis, 29 Januari 2026.

Ia menambahkan, warga yang rumahnya hilang atau tidak lagi layak huni akan segera dipindahkan ke hunian sementara (huntara). Meski demikian, kepastian teknis terkait lokasi dan jangka waktu penempatan masih menunggu koordinasi lanjutan.

Bagi warga setempat, abrasi kali ini dinilai sebagai yang terparah sepanjang sejarah kampung mereka.  Abdul Kadir, warga Kampung Bugis yang lahir dan besar di kawasan tersebut sejak 1972, menyebut bahwa intensitas dan kekuatan gelombang kali ini jauh melampaui kejadian-kejadian sebelumnya.

“Sepanjang saya hidup di sini, baru kali ini abrasi separah ini. Puncaknya malam Kamis Minggu lalu, air pasang naik sangat tinggi sampai masuk ke dalam rumah warga,” ungkapnya.

Selain merusak rumah, cuaca ekstrem juga melumpuhkan mata pencaharian warga pesisir. Aktivitas melaut terhenti total akibat gelombang tinggi yang membahayakan keselamatan nelayan. Perahu-perahu nelayan bahkan terpaksa diungsikan hingga ke kawasan Senggigi.

“Sudah beberapa hari kami tidak bisa melaut sama sekali. Sekarang hanya mengandalkan bantuan sembako. Setiap kepala keluarga diberikan bantuan beras satu sak,” kata Abdul Kadir.

Ia juga menyoroti kondisi ekonomi warga yang semakin terjepit. Menurutnya, sebagian besar warga pesisir bertahan hidup dengan mengandalkan pinjaman bank.

“Rata-rata ambil kredit di BRI antara Rp50 sampai Rp100 juta. Awalnya untuk modal beli kapal atau usaha, tapi sekarang banyak yang terpaksa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Warga menilai, abrasi yang terus berulang mencerminkan lemahnya penanganan jangka panjang terhadap kawasan pesisir Ampenan. Mereka berharap pemerintah tidak hanya bergerak saat bencana sudah terjadi, melainkan menyiapkan perlindungan permanen yang mampu menjamin keselamatan dan keberlanjutan hidup masyarakat pesisir. (*)

Laman sebelumnya 1 2

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button