Dibalik Gedung Baru Puskesmas Pengadang, Masalah Skrining BPJS hingga Sopir Masih Jadi Perhatian
Lombok Tengah (NTBSatu) – Gedung baru Puskesmas Pengadang, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, resmi meninggalkan standar era Inpres 1979. Kini berdiri kokoh setelah mendapat suntikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Rp7 miliar.
Salah satu lompatan terbesar dalam pembangunan gedung baru Puskesmas Pengadang, terletak pada kelengkapan ruangan. Di antaranya, tambahan ruang laktasi, ruang tunggu hingga kantin.
Sebelumnya, pelayanan berlangsung secara “borongan” dalam satu ruangan. Kini, bisa berdasarkan kategori usia. Kepala Puskesmas Pengadang, Lalu Azhar turut merasakan perbedaan besar saat berada di gedung lama dan bangunan baru.
“Jauh sekali bedanya. Kalau dulu pemeriksaannya hanya satu, semua jenis umur di satu ruangan. Sekarang kita sudah pisahkan menurut umur, ruangannya jauh lebih banyak dan lengkap,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 21 Januari 2026
Sistem pemisahan yang diberlakukan terbukti mempercepat alur diagnosis oleh petugas medis. Selain itu, pasien lebih mudah mendapatkan privasi.
Meski begitu, kenyamanan fisik bangunan baru Puskesmas Pengadang, tidak menjawab keluhan masyarakat terkait pelayanan yang lama. Banyak pasien mengeluh karena alur pemeriksaan yang lambat.
“Masih lama, antre dari pagi baru dapat siang. Kita kan capek, apalagi yang tua-tua,” ujar salah satu pasien.
Pelayanan Puskesmas Pengadang
Menanggapi keluhan pasien, Petugas Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Pengadang, Lalu Istiqlal Anjaswari menjelaskan, lamanya waktu pelayanan karena harus mengikuti sistem skrining ganda dari BPJS dan P-Care.
Pasien diwajibkan melewati tiga pos, seperti loket pendaftaran, skrining berlapis, baru setelahnya memasuki ruangan pemeriksaan dokter. Proses paling lama terjadi karena harus melewati 29 skrining dari BPJS.
“Yang bikin berat itu kita wajib skrining dua macam. Di BPJS saja ada 29 parameter skrining. Prosedur ini yang membuat pelayanan terkesan lama, karena kami harus patuh pada aturan BPJS,” kata Istiqlal.
Selain waktu pelayanan, permasalahan manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Puskesmas Pengadang, perlu mendapat perhatian lebih mendalam.
Meski memiliki gedung baru, Puskesmas Pengadang belum memiliki sopir ambulans resmi dan petugas kebersihan, mengingat standar pegawai yang harus berstatus ASN.
Masalah ini mengharuskan tenaga medis harus rangkap tugas dan bergantian mengendarai ambulans dalam situasi darurat. Tidak hanya itu, gedung baru yang lebih luas ini, hanya dikelola oleh dua petugas kebersihan, di samping standar resmi yang harusnya empat orang.
Area luar gedung Puskesmas Pengadang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Beberapa fasilitas penunjang, seperti tembok pengaman, tempat parkir, hingga penataan halaman masih belum rampung sepenuhnya.
Meskipun masih banyak catatan, sistem pengelolaan limbah Puskesmas Pengadang tetap aman. Terbukti dengan adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk limbah cair, dan kerja sama profesional dengan Biotech untuk pengelolaan limbah padat.
Di samping itu, dampak psikologis positif bagi petugas kesehatan tidak bisa dilupakan. Istiqlal mengaku, merasa mendapat ruang gerak yang lebih luas daripada sebelumnya.
“Dulu staf saling himpit-himpitan karena tempatnya sempit. Sekarang pengaruhnya besar sekali ke kinerja, tempatnya lebih luas dan bisa menampung seluruh staf dengan nyaman,” tambahnya.
Gedung baru Puskesmas Pengadang rencananya akan diresmikan pada Kamis, 22 Januari 2026 oleh Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri. Namun saat ini, sudah mulai beroperasi seperti biasanya. (Inda)



