Pertanian Jadi Pilar Utama Ekonomi NTB, Gubernur Iqbal Siapkan Silo Jagung dan Cold Storage
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menegaskan sektor pertanian menjadi pilar utama ekonomi NTB. Triwulan pertama 2025, pertumbuhan pertanian mencapai 10 persen, tertinggi dalam 14 tahun terakhir.
Menurut Iqbal, peningkatan ini ditopang oleh kenaikan Harga Pokok Penjualan (HPP) jagung dan beras. Ia menambahkan, Pemprov NTB sedang membangun silo jagung berkapasitas 100.000 ton dan cold storage bawang merah.
“Dengan fasilitas ini, petani tidak lagi tergantung pada harga pasar yang fluktuatif dan bisa meningkatkan pendapatan,” ujar Iqbal saat menghadiri acara Temu Media Gubernur NTB di Kabupaten Sumbawa Besar, pada Rabu, 29 Oktober 2025.
Pembangunan fasilitas penyimpanan hasil panen ini sejalan dengan program agromaritim, yang menekankan penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir.
Beberapa contohnya, pengolahan gabah menjadi beras kemasan, jagung untuk pakan industri, dan pemrosesan komoditas laut, seperti udang serta rumput laut sebelum ekspor.
Kabupaten Sumbawa menjadi salah satu lumbung padi NTB. Selain padi, Sumbawa juga mengembangkan jagung dan kedelai, serta peternakan sapi yang menjadi pilar ketahanan pangan dan pendapatan masyarakat lokal.
“Jika kita kuatkan semua sektor potensial, dampaknya tidak hanya pada ekonomi, tapi juga kesejahteraan masyarakat,” tambah Iqbal.
Komitmen Pemprov NTB
Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB terus menujukan komitmennya dalam memperkuat sektor-sektor potensial daerah, seperti pertanian, kelautan, pariwisata, dan sejumlah sektor lainnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB, Iswandi mengatakan, setiap sektor memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Termasuk pada skala desa.
Dalam RPJMD pemerintah daerah telah menetapkan arah pemgembangan sektor-sektor potensial melalui program unggulan agromaritim, yang fokusnya untuk membentuk ekosistem industri agromaritim dari hulu ke hilir. Prioritas dukungan untuk menguatkan swasemenda pangan, serta hilirisasi dan industri pengolahan.
Langkah ini, lanjut Iswandi, sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.
“Masing-masing daerah, tentu memiliki potensi pada sektor yang berbeda-beda. Itu yang akan kita upayakan untuk terus dikembangkan,” ujarnya.
Selain pertanian, sektor kelautan juga menjadi fokus. Termasuk pariwisata. Menjadi program unggulan NTB Pariwisata Berkualitas yang arah pengembangannya terintegrasi dengan pariwisata Bali dan NTT. Sehingga, memperkuat sisi konektivitas logistik maupun mobilitas orang atau penumpang.
“Semua sektor ini saling terkait. Jika kita kuatkan bersama, maka dampaknya akan luas, bukan hanya bagi ekonomi daerah, tapi juga kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Pemerintah provinsi juga mendorong kolaborasi antara pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat rantai nilai di setiap sektor.
“Melalui pendekatan ini, diharapkan pertumbuhan ekonomi NTB tidak hanya bertumpu pada satu sektor, tetapi lebih merata dan berkelanjutan,” ujarnya.
Tanggapan Pemkab Sumbawa
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa, terus memperkuat langkah pembangunan daerah dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang beragam. Sektor-sektor seperti pertanian, kelautan, peternakan, dan perkebunan menjadi fokus utama pengembangan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedi Heriwibowo menjelaskan, Sumbawa memiliki dua kelompok besar sumber daya alam, yaitu sumber daya tidak terbarukan seperti tambang dan mineral, serta sumber daya terbarukan seperti pertanian dan kelautan.
Pemerintah daerah, lanjut Dedi, terus berupaya mengarahkan transformasi ekonomi menuju sektor yang bersifat berkelanjutan.
“Sektor pertanian dan kelautan disebut sebagai pilar utama, karena keduanya mampu menopang kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang,” kata Dedi kepada NTBSatu.
Selain itu, sektor perkebunan juga tumbuh pesat. Kopi Sumbawa menyumbang lebih dari 42 persen produksi kopi NTB, sedangkan komoditas bawang merah terus meningkat dengan kontribusi 13,83 persen.
Dorongan Agrobisnis dan Agroindustri
Melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), pemerintah daerah mendorong penguatan agrobisnis dan agroindustri untuk menciptakan nilai tambah produk lokal.
“Hasil pertanian dan kelautan perlu diolah langsung di daerah. Gabah harus menjadi beras kemasan, jagung diarahkan menjadi bahan industri pakan, dan udang serta rumput laut harus diolah sebelum diekspor,” jelas Dedi.
Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah daerah untuk membuka peluang investasi industri kecil, menengah, hingga besar. Upaya tersebut harapannya mampu memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)



