Visi Pariwisata Mendunia Terganjal Tiket Pesawat Mahal

Mataram (NTBSatu) – Industri pariwisata di NTB, khususnya di Pulau Lombok, dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang secara global.
Namun demikian, tantangan serius masih menghambat pencapaian tersebut. Terutama, terkait tingginya harga tiket pesawat dan terbatasnya akses transportasi menuju destinasi-destinasi unggulan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini menyebut, persoalan mahalnya harga tiket pesawat antar daerah telah menjadi keluhan utama para pelaku industri pariwisata maupun wisatawan domestik.
“Banyak yang mengeluhkan mahalnya harga tiket penerbangan domestik. Padahal, sektor pariwisata kita masih sangat bergantung pada kunjungan wisatawan nusantara,” ujar Wolini kepada NTBSatu, Selasa, 5 Agustus 2025.
Menurutnya, di tengah situasi ekonomi yang belum stabil, para pelaku usaha berharap agar Pemerintah Provinsi NTB di bawah kepemimpinan Iqbal–Dinda dapat memberikan perhatian serius terhadap isu konektivitas dan infrastruktur pariwisata, yang dinilai belum memadai.
“Kita perlu berbenah secara menyeluruh. Jika akses menuju NTB tidak diperbaiki, bukan tidak mungkin wisatawan akan enggan kembali. Padahal, kita mengusung cita-cita mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan dan mampu bersaing secara global,” tambahnya.
Senada dengan itu, Ketua DPRD NTB, Baiq Isvie Rupaeda menegaskan pentingnya pembenahan aksesibilitas sebagai prasyarat dasar pengembangan pariwisata daerah.
“Lombok memiliki destinasi wisata unggulan seperti Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Gili Gede. Hingga ke kawasan selatan seperti Selong Belanak, Kuta Mandalika, Pantai Mawi, dan Pantai Pink. Namun potensi ini tidak akan maksimal, bila akses menuju ke sana masih sulit dan mahal,” ujarnya saat sambutan pada acara Senggigi Art Serenade di Sudamala Resort, Lombok Barat, beberapa waktu lalu.
Harga Tiket Pesawat ke Lombok
Sebagai perbandingan, harga tiket pesawat dari Jakarta ke Lombok dengan durasi penerbangan sekitar dua jam, saat ini berada di kisaran Rp 900 ribu hingga Rp 1,1 juta.
Sementara itu, rute pendek seperti Denpasar–Lombok, yang hanya dipisahkan oleh lautan sempit, justru bisa mencapai Rp 1,2 juta. Sebuah ironi yang mengundang pertanyaan serius mengenai pengelolaan konektivitas antar destinasi dalam negeri.
“Jika permasalahan ini tidak segera ditangani, upaya memajukan pariwisata NTB ke panggung internasional akan terus terhambat. Meskipun daerah ini telah memiliki semua modal alam dan budaya yang dibutuhkan,” pungkasnya. (*)