Pariwisata Kota Mataram Sangat Andalkan MICE, Rentan Drop saat Anggaran Seret

Mataram (NTBSatu) – Pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB 2024 – 2027, Dewantoro Umbu Joka menilai pariwisata Kota Mataram sangat bergantung pada kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Khususnya, rapat dan agenda pemerintahan.
“Yang paling kasihan ya Mataram. Kalau ada efisiensi anggaran, dampaknya langsung terasa. Tapi sekalinya ada acara besar, kamar hotel langsung overload,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 4 Juli 2025.
Menurut Umbu, pola ini membuat sektor pariwisata Mataram rentan fluktuasi. “Kalau ramai, sangat ramai. Tapi kalau sepi, bisa anjlok parah, down sekali,” tambahnya.
Untuk itu, ia mendorong Pemkot Mataram untuk lebih kreatif memanfaatkan komunitas, membangun pemasaran yang kuat. Serta, menggelar event–event menarik agar tidak terlalu bergantung pada kegiatan pemerintahan
Salah satu angin segar yang menghidupkan kembali pariwisata di Kota Mataram pada pertengahan tahun ini, terselenggaranya Festival Olahraga Nasional (Fornas) tanggal 26 Juli hingga 1 Agustus 2025.
Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), I Made Adiyasa mencatat perputaran ekonomi tembus Rp20 miliar hanya dalam enam hari pelaksanaan.
“Dengan rata-rata 7.000 kamar hotel terisi dan tarif Rp500 ribu per kamar, perputaran uang per hari mencapai Rp3,5 miliar,” jelas Adiyasa
Tingginya okupansi bahkan membuat sebagian wisatawan domestik harus mencari kamar di Lombok Barat, karena seluruh hotel di Mataram penuh.
“Awalnya kami proyeksikan okupansi 85–90 persen, ternyata melampaui itu,” imbuhnya.
Umbu menegaskan, jika Mataram ingin sektor pariwisatanya stabil, maka harus berani keluar dari zona nyaman MICE dan menciptakan magnet wisata baru.
“Event pemerintah penting, tapi jangan jadi satu-satunya tumpuan. Pariwisata harus hidup sepanjang tahun, bukan musiman,” pungkasnya. (*)