HEADLINE NEWSKabupaten Bima

Kisah Pilu Perempuan di Bima Diduga Jadi Korban KDRT, Dianiaya Suami saat Sakit

Mataram (NTBSatu) – Seorang perempuan berinisial P (24 tahun) di Bima mengungkapkan, pengalaman pahit diduga menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Dalam kondisi demam, ia tetap memaksakan diri mengurus rumah, memasak, mencuci pakaian, dan merawat anak tanpa bantuan suami.

“Dari subuh saya sudah demam. Tapi saya kuatin karena saya yang urus rumah. Bangun subuh saya masak, selesai masak saya pergi nyuci, walaupun dengan keadaan saya lagi sakit,” ucap P kepada NTBSatu, Senin, 28 Juli 2025

Meskipun dalam keadaan sakit, ia tetap memenuhi pesanan tomat yang masuk pada pagi hari. “Setelah saya selesai mandikan anak, saya bilang ke suami saya untuk lihat anak kami, karena saya mau bawa pesanan tomat,” curhatnya

Korban P memutuskan tetap berangkat sendirian karena suaminya memilih tidur dan enggan diganggu. “Padahal posisinya saya sedang sakit, tapi saya paksa antar sendiri dan tidak mau mengganggu suami saya. Kalau pagi hari masih pengen tidur dan tidak mau di ganggu, jadi saya cari aman,” ungakapnya

IKLAN

Perjalanan pulang membuat tubuhnya semakin menggigil. Lalu ia memberitahu suami bahwa dirinya ingin beristirahat. P mencoba tidur di samping anaknya yang sedang menonton ponsel.

Dilempar Gelas Kopi

Saat tertidur, anak mereka tidak sengaja menumpahkan kopi milik sang ayah. Kejadian itu memicu kemarahan suami.

Tanpa mempertimbangkan kondisi P yang sakit, pria tersebut melempar gelas ke arah P hingga membuatnya terkejut.

“Dia datang melempar gelas kopinya kepada saya yang sedang tertidur, hal ini membuat saya kaget. Kenapa dia melakukan hal seperti itu pada saya yang sedang sakit,” jelasnya.

Dalam keadaan tubuh lemas, P tetap berusaha membersihkan pecahan gelas dan menenangkan anak, lalu masuk ke kamar.

IKLAN

Suaminya melontarkan kalimat menyalahkan, mempertanyakan mengapa P tidak mengawasi anak mereka. Ia yang sudah kelelahan hanya menangis, dan bertanya mengapa suaminya tidak menunjukkan rasa kasihan.

Ucapan itu justru memicu kekerasan fisik, P menerima tendangan pada punggung, pukulan di kepala, bahkan ludahan.

“Dia langsung tendang punggung saya, sambil kita cekcok dan dia tonjok kepala saya lalu meludahi saya,” ucapnya pilu

Rasa sakit membuatnya berteriak, namun teriakannya memancing amarah lebih besar. Suami P kembali memukul bagian wajah hingga mengenai mata dan hidung, menyebabkan darah mengalir.

P menuturkan, peristiwa tersebut bukan kejadian pertama. Ia sudah sering mengalami kekerasan dari suaminya.

Tak hanya itu, trauma semakin berat karena foto-fotonya bersama anak tersebar di media sosial, membuatnya merasa semakin tertekan.

“Sama foto yang beredar di media sosial menambah trauma saya, karena saya kembali melihat kondisi saya saat masih banyak luka,” tutupnya. (*)

Berita Terkait

Back to top button