Lombok Tengah

Mahasiswa Lombok Protes ITDC soal Penggusuran di Tanjung Aan: Hentikan Penggusuran Rakyat!

Mataram (NTBSatu) – Serikat Mahasiswa Teres Bereng menyatakan penolakan keras terhadap aksi penggusuran warga di kawasan Pantai Tanjung Aan, Lombok Tengah oleh Injourney Tourism Development Corporation (ITDC).

Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa menuding bahwa apa yang ITDC lakukan bukanlah pembangunan. Melainkan bentuk baru dari penjajahan yang mengusir rakyat dari tanah yang telah mereka rawat dan bangun sejak lama.

Serikat Mahasiswa Teres Bereng menilai proyek pengembangan kawasan Mandalika, termasuk Tanjung Aan, lebih banyak menimbulkan penderitaan ketimbang kesejahteraan.

Mahasiswa menegaskan, masyarakat yang pertama hadir di Tanjung Aan telah membersihkan, membuka, dan membangun kawasan tersebut jauh sebelum ada investor, resort mewah, atau rencana tata ruang dari korporasi pariwisata.

“Ini bukan pembangunan, ini perampasan ruang hidup rakyat,” tegas Ketua Presidium Serikat Mahasiswa Teres Bereng, Lalu Wahyu Alam, Minggu, 13 Juli 2025.

IKLAN

Mahasiswa mengecam keras sikap pemerintah daerah yang pasif dan tidak berpihak kepada masyarakat. Pihaknya menganggap, Gubernur NTB dan Bupati Lombok Tengah memilih diam dan membiarkan penggusuran terus terjadi demi melancarkan kepentingan investor.

Adapun 5 Tuntutan Mahasiswa untuk Pemerintah dan ITDC: Pertama, hentikan segera semua bentuk penggusuran terhadap warga Tanjung Aan. Tarik aparat keamanan dari lokasi konflik yang justru menjadi alat intimidasi terhadap warga.

Ketiga, Gubernur NTB dan Bupati Lombok Tengah harus berpihak kepada rakyat, bukan korporasi. Lakukan audit menyeluruh terhadap proyek Mandalika.

Terkahir, berikan kepastian hukum atas tanah dan usaha warga yang sudah puluhan tahun hidup di kawasan tersebut.

Mahasiswa juga menyatakan kesiapan untuk turun ke jalan jika aksi penggusuran terus berlangsung. Mereka menyebut, rakyat bukan tamu di tanahnya sendiri dan tidak akan diam ketika hak-hak dasar dirampas oleh kepentingan bisnis.

IKLAN

“Kalau pemimpin terus jadi boneka investor, kami mahasiswa siap melawan,” tegas Wahyu. (*)

Berita Terkait

Back to top button