Mataram (NTBSatu) – Persoalan relokasi pasien di rumah singgah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB menjadi sorotan.
Bahkan, mendapat perhatian Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dan langsung memerintahkan pasien tetap tinggal untuk sementara.
Wakil Ketua DPRD NTB, H. Muzihir, juga turut mengomentari persoalan relokasi pasien di rumah singgah tersebut.
Muzihir mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan rumah singgah, sejumlah anggota DPRD Provinsi NTB berencana mengarahkan anggaran pokir untuk pembangunan tersebut.
Terutama anggota dewan dari Dapil V dan VI. Pasalnya, kebanyakan pasien yang menempati berasal dari Pulau Sumbawa.
“Memang kita dari teman-teman Dapil V dan VI Sumbawa dan Bima sudah merencanakan itu. Kemungkinan aspirasi Pokir anggota DPRD ada yang mengarah ke sana,” kata Muzihir, Senin, 24 Februari 2025.
Politisi PPP ini berharap, anggaran untuk pembangunan rumah singgah ini masuk di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan.
“Mudah-mudahan di APBD Perubahan masuk. Ini merupakan janji politik yang berasal dari Dapil V dan VI. Mudah-mudahan ini bisa segera terwujud,” terangnya.
Rencana itu, kata Muzihir, sejalan dengan keinginan Direktur RSUD Provinsi NTB, dr. Lalu Herman Mahaputra, mendorong agar Pemerintah kabupaten atau Kota membangun juga rumah singgah bagi pasien supaya lebih efisien.
Minta Anggota DPRD Tampung Sementara
Sementara untuk solusi jangka pendek atas persoalan ini, Muzihir berharap masing-masing anggota DPRD NTB, khususnya Dapil V dan VI untuk menampung sementara pasien-pasien yang berasal dari Pulau Sumbawa.
“Karena masing-masing anggota DPRD NTB dari Pulau Sumbawa memiliki rumah di Kota Mataram. Mungkin, ada keluarga besarnya bisa ditampung untuk sementara,” ujarnya.
Selain itu, agar persoalan ini tidak berlarut-larut, para pasien masih bisa tinggal di rumah keluarga atau kerabatnya. Karena warga Bima dan Dompu di Kota Mataram tidak sedikit.
“Misalnya ada keluarga dekatnya. Masa tidak bisa ditampung sementara,” kata Muzihir.
Di samping itu, Muzihir juga meminta kepada pihak RSUD NTB melakukan penelusuran orang-orang yang tinggal di rumah singgah tersebut. Sebab informasinya, yang menempati bukan hanya pasien sakit.
“Karena khawatirnya ada orang lain yang juga tinggal di sana. Sehingga benar-benar rumah singgah ini untuk pasien dan keluarganya,” ungkapnya.
“Jangan sampai satu pasien tapi yang nunggu sampai 10 orang ini kan tidak benar,” tambahnya.
Muzihir menyampaikan, berdasarkan hasil pertemuan antara tokoh masyarakat, kampus dan Direktur RSUD NTB bahwa rencana relokasi rumah singgah ini sudah sejak lama.
Dalam hal ini bukan pengusiran terhadap para pasie tetapi hanya penertiban. Karena nanti pihak RSUD NTB akan membangunkan tempat yang baru.
“Niat mulia pak Direktur, kan hasil pertemuan itu sudah diterima semua pihak. Namun kadang-kadang namanya orang kena musibah sakit jadi kalau disentuh sedikit langsung tersinggung. Oleh karenanya mudah-mudahan pembangunan rumah singgah ini cepat selesai dan segera difungsikan oleh keluarga pasien,” jelasnya. (*)