Mataram (NTBSatu) – Beberapa waktu lalu, muncul imbauan terkait memboikot kurma-kurma yang berasal dari Israel. Sejumlah pihak pun ikut mendukung imbauan itu atas dasar berempati terhadap perang yang tengah berkecamuk di Gaza, Palestina.
Dinas Perdagangan (Disdag) NTB memberikan sedikit komentar soal imbauan yang berkembang mengenai pelarangan impor kurma dari Israel.
Kepala Disdag NTB, Baiq Nelly Yuniarti mengatakan, berdasarkan informasi yang terhimpun, NTB tidak memiliki importir kurma. Secara rata-rata, pedagang di NTB mengambil kurma dari Pulau Jawa.
“Sebenarnya, lebih banyak penjual lepasan. Kalau yang di toko-toko, kami melihat lebih banyak kurma yang berasal dari Tunisia,” ungkap Nelly, ditemui di acara Gelegar Khazanah Ramadhan, Islamic Center, Senin, 18 Maret 2024.
Berkaitan soal kurma tersebut, Nelly menerangkan bahwa peredaran kurma-kurma yang berasal dari negara tertentu, tidak dapat dicegah olehnya. Sebab, negara memang tidak pernah merilis larangan mengenai konsumsi kurma yang berasal dari negara tertentu, termasuk Israel.
Berita Terkini:
- Viral di TikTok, PT Allianz PHK Ratusan Karyawan Demi Efisiensi
- Lebaran Topat 2025: Harmoni Religi, Budaya, dan Wisata di Jantung Kota Mataram
- Liburan Hemat nan Hangat di Pantai Senggigi, Pilihan Warga Mataram Saat Libur Panjang Lebaran
- ASN Dapat Tambahan Libur, WFA Diperpanjang Sampai 8 April 2025
“Kami mengembalikan soal konsumsi kurma kepada konsumen. Sebab, konsumsi terhadap kurma memang dipengaruhi oleh selera masing-masing konsumen,” terang Nelly.
Nelly menyebutkan bahwa negara tidak melarang mengkonsumsi kurma yang berasal dari negara-negara tertentu. Kemudian, terkait dengan pelarangan mengkonsumsi kurma asal Israel, itu masih bersifat imbauan.
Karena imbauan terhadap pelarangan mengkonsumsi kurma asal Israel bukan dari negara, maka Nelly merasa tidak terlalu berhak untuk memberikan komentar.
Berdasarkan laporan yang diterima Nelly, beberapa produk kurma asal Israel mungkin masih beredar di pasaran. Hal itu kemudian sejenis dengan berbagai produk yang ramai-ramai diboikot oleh masyarakat.
Namun, perlu diketahui, pemerintah tidak pernah mengeluarkan peraturan mengenai pelarangan mengkonsumsi produk-produk yang berafiliasi dengan Israel.
“Sementara ini, pelarangan mengkonsumsi produk asal Israel itu masih bersifat imbauan bagi sesama umat muslim untuk memberikan empati atas perang yang terjadi di Palestina,” tandas Nelly. (GSR)