Esai

Bahasa sebagai Penjaga Kearifan Lokal

Oleh: Izzat Ardani Fatiha – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, UNW Mataram, 2024


Seperti yang telah kita ketahui, bahasa berperan sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam fungsi komunikatifnya, bahasa digunakan untuk menyampaikan maksud, mengungkapkan perasaan, serta memfasilitasi kerja sama dengan orang lain. Saat menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita memiliki tujuan tertentu, yaitu ingin dipahami, menyampaikan ide yang dapat diterima, membuat keyakinan terhadap pandangan kita, memengaruhi orang lain, dan mendapatkan respons terhadap pemikiran kita.

Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesama, manusia menggunakan dua cara komunikasi utama: verbal dan non verbal. Komunikasi verbal melibatkan penggunaan bahasa, baik lisan maupun tulis. Sementara itu, komunikasi non verbal melibatkan simbol, isyarat, kode, dan bunyi, seperti tanda lalu lintas atau sirene, yang kemudian diartikan ke dalam bahasa manusia. Dalam konteks ini, penting untuk diingat bahwa tujuan utama berkomunikasi adalah agar pembaca atau pendengar menjadi perhatian utama seseorang.

Bahasa Indonesia saat ini dan masa yang akan datang telah menjadi bagian integral dari masyarakat global. Dalam interaksi dengan masyarakat dunia, terdapat peluang besar untuk mengeksplorasi, memahami, dan mempelajari berbagai aspek, khususnya ketika dikombinasikan dengan kekayaan bahasa Indonesia. Di era globalisasi ini, para ahli bahasa, penulis, dan pengajar bahasa Indonesia dapat mengoptimalkan sejarah tidak hanya sebagai suatu kepentingan masa lalu, melainkan juga sebagai pendekatan antikurian dan kritis.

Pendekatan antikurian mencakup pencarian asal-usul dan identitas dari masa lampau, sementara pendekatan kritis melibatkan peninjauan masa lalu tanpa memandangnya sebagai beban, tetapi dengan upaya melihatnya secara kritis, yaitu mengajarkan manusia untuk mandiri dan memisahkan diri dari masa lalu. Pendekatan ini membangun hubungan dengan masa kini (present meaning) dan bahkan dapat diartikan sebagai makna masa depan (future meaning) yang lebih mengukuhkan identitas bahasa Indonesia. Hal ini juga mencerminkan kearifan lokal masyarakatnya.

Kearifan lokal merujuk pada pandangan hidup, pengetahuan, dan strategi kehidupan yang diwujudkan melalui aktivitas masyarakat lokal untuk mengatasi berbagai masalah dalam memenuhi kebutuhan mereka. Secara etimologis, istilah “kearifan lokal” terbentuk dari dua kata, yaitu “kearifan” (wisdom) dan “lokal” (local). Istilah lain yang sering digunakan untuk menggambarkan konsep kearifan lokal termasuk “kebijakan setempat” (local wisdom), “pengetahuan setempat” (local knowledge), dan “kecerdasan setempat” (local genius).

Kearifan lokal merupakan warisan berharga yang mencerminkan budaya dan jati diri suatu masyarakat. Kearifan lokal ini dapat berupa nilai-nilai, tradisi, kepercayaan, dan pengetahuan yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Kearifan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat. Bahasa adalah bagian penting dari kearifan lokal setiap komunitas. Bahasa berperan dalam penjagaan dan pengembangan budaya dan identitas suatu masyarakat atau komunitas.

Bahasa adalah salah satu alat yang paling kuat untuk menjaga dan melestarikan budaya suatu masyarakat. Melalui bahasa, orang dapat mengkomunikasikan nilai-nilai, norma-norma, dan tradisi mereka ke generasi muda. Misalnya, dalam banyak masyarakat lokal, cerita rakyat, legenda, dan mitos sering disampaikan melalui bahasa lokal. Bahasa juga berperan sebagai penghubung antar masyarakat. Dalam lingkungan globalisasi saat ini, bahasa menjadi jembatan penting antara budaya dan identitas lokal dengan dunia luar. Bahasa adalah alat komunikasi penting antara individu dalam masyarakat.

Melalui bahasa, orang dapat berbicara, berinteraksi, dan membentuk hubungan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa berperan penting baik sebagai alat komunikasi maupun penjaga kearifan lokal suatu masyarakat. Bahasa tidak hanya sebagai sarana menyampaikan maksud dan ide, tetapi juga sebagai wadah untuk merawat dan mewariskan nilai-nilai, tradisi, serta identitas kultural dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bahasa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian integral dari masyarakat dunia, memungkinkan pertukaran ide dan pengalaman dengan kekayaan budaya yang dimiliki. Penggunaan bahasa lokal juga mencerminkan kebijakan setempat atau kearifan lokal, yang dapat diartikan sebagai sebuah sumber pengetahuan dan strategi kehidupan yang unik.

Dengan demikian, kearifan lokal melalui bahasa menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan budaya dan identitas masyarakat. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga penjaga kearifan lokal yang berperan dalam membentuk keseimbangan dan kelangsungan hidup masyarakat di tengah dinamika kehidupan digital saat ini.


Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics. Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button