IKLAN
Business

Sangat Menjanjikan, Nilai Pesanan Ekspor 5 Komoditas NTB Capai Rp111,5 Miliar Setahun

Mataram (NTB Satu) – Bank Indonesia (BI) menghitung nilai pesanan lima komoditas NTB non tambang dengan nilai yang cukup fantastis yaitu mencapai Rp111,5 miliar setahun. Melihat besarnya potensi kekayaan alam provinsi ini, Bank Indonesia semakin optimis melihat masa depan Provinsi NTB.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Heru Saptaji menyampaikan, lima komoditas yang tengah dibina oleh Bank Indonesia dari hulu hingga hilir. Kelima komoditas tersebut yaitu vanili, kopi, sarang burung walet, rumput laut, dan ikan tuna.

IKLAN

Sabtu 12 November lalu dilakukan pelepasan ekspor vanili organik sebanyak 2 ton dengan tujuan Amerika Serikat, Kopi sebanyak 3 kontainer dengan tujuan Korea Selatan, Sarang Burung Walet sebanyak 2 kontainer ke China, serta Tuna Loin sebanyak 1 ton ke Singapura dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB di Mataram.

Turut hadir melepas ekspor komoditas non tambang NTB ini diantaranya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Doni Primanto Joewono, Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu, Asisten I Lombok Timur H. Achsan Nasrul Huda, Asisten II Lombok Barat Rusditah S.Sos, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB Drs. H. Faturrahman, M.Si, Kepala Grup Departemen Regional Bank Indonesia Suryono, Kepala Dinas/Instansi SKPD di Provinsi NTB beserta jajaran, stakeholder dan para Pelaku UMKM di Nusa tenggara Barat serta Anggota Komisi XI DPR RI Hj. Wartiah.

Heru Saptaji mengatakan, pasar global sangat terbuka terhadap komoditas non tambang yang ada di NTB. Secara bertahap, pesanan dari luar negeri akan dipenuhi. Vanili senilai Rp17 miliar setahun. Kopi senilai Rp22 miliar setahun, sarang burung walet senilai Rp36 miliar setahun, rumput laut senilai Rp15 miliar setahun, dan ikan tuna senilai Rp21,6 miliar setahun. Total seluruhnya Rp111,5 miliar setahun.

Karena itu, Bank Indonesia bersama-sama mendorong kebangkitan ekonomi di NTB, khususnya melalui akselerasi pengembangan ekspor komoditas unggulan non-tambang dan pariwisata. Kondisi pertumbuhan ekonomi NTB secara umum yang terus berangsur membaik. Bank Indonesia dengan dedikasi tim “NTB Genjot Ekspor” juga berhasil merespon dan menangkap peluang pasar ekspor non-tambang sebagai new source engine of growth di wilayah.

Heru menegaskan, potensi sumber daya alam provinsi ini sangat besar, kekayaan alamnya melimpah. Ia bahkan menyebutnya sebagai emas yang terpendam. Jika dikelola potensi ini, NTB bisa menjadi daerah luar biasa menurutnya.

“Potensi ini harus terus kita eksplore, kita gali. Kemudian kita poles dari sisi hulu sampai dengan sisi hilir. Dari sisi hulu harus dipoles dan dijaga dengan 3K, kualitas, kuantitas, dan kontinyuitas,” jelas Heru.

Pelaku UMKM ekspor harus didampingi sebaik-baiknya. Misalnya, teknik budidayanya. Untuk komoditas vanili organik, kandungan kimianya tidak boleh lebih dari 3 persen.

Bagaimana produktifitasnya meningkat, petani juga diajarkan bagaimana cari membudidaya yang baik, pemilihan benih yang baik, mengendalikan hama yang baik, sehingga hasilnya bisa meningkat berlipat-lipat.

“Ketika sisi hulu diperbaiki, kelembagaannya juga kita perbaiki. Agar mereka sebagai kelompok ini kompak, solid, menjaga pasar dengan baik. Mereka ditanamkan mind set bukan saja sebagai pengusaha, tetapi sebagai entrepreneur. Ini juga kita tanamkan secara berkesimabungan,” ujarnya.

Lalu di hilir, sisi pemasaran diintervensi. Akses-akses pasar global dibuka lebih luas, misalnya ke Kanada, Turki, Amerika Serikat, bahkan ke Timur Tengah.

“Di tengah tekanan komplek global seperti sekarang, konsumsi masyarakat ditengah pandemi turun. Tidak ada lain pilihan lain, mendongkrak dan menopang ekonomi dari sisi eksport non tambang,” demikian Heru Saptaji.

Tahun 2023, Bank Indonesia juga akan ekspansi mengangkat komoditas potensial NTB, salah satunya mutiara.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doni Primanto Joewono memberikan apresiasi kepada NTB karena memiliki persentase Pertumbuhan Ekonomi yang positif di angka 7,10%, lebih baik dari nasional yang berada dikisaran 5,72%.

Pertumbuhan ekonomi yang baik tersebut juga karena adanya penguatan dari sisi ekspor, sehingga pelaksanaan selebrasi ekspor dan pariwisata kali ini menurutnya sangat tepat.

“Saya turut bangga dan mengapresiasi Forum NTB Genjot Ekspor bisa mendorong kinerja ekspor, semoga momentum ini bisa kita manfaatkan dengan baik untuk pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat,” demikian Doni.(ABG)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button