Pendidikan

Kepala SMAN 1 Gunungsari Bantah Keterlibatan Siswanya dalam Kasus Dugaan Pembacokan Di Udayana

Mataram (NTBSatu) – Kepala SMAN 1 Gunungsari, Musrifin, mengklarifikasi pencatutan nama sekolahnya dalam kasus dugaan kekerasan pembacokan di Udayana yang ramai dibincangkan media sosial beberapa pekan terakhir.

Pihaknya memastikan bahwa tidak ada satu pun siswa aktif SMAN 1 Gunungsari yang terlibat dalam insiden tersebut.

Musrifin menanggapi keresahan para siswa dan orang tua akibat informasi yang beredar di tengah masyarakat.

“Yang pertama, kami menyampaikan turut berduka tentunya kepada korban. Yang kedua, kami memastikan bahwa siswa SMAN 1 Gunungsari tidak terlibat dalam kekerasan pembacokan tersebut,” ujar Musrifin kepada NTBSatu, Senin, 2 November 2026.

Musrifin merincikan dua nama yang sempat mengaitkan nama sekolah dengan pihak kepolisian maupun laporan di lapangan. Terkait nama MNR, Musrifin memastikan anak tersebut murni bukan siswa SMAN 1 Gunungsari, melainkan berdasarkan penelusuran data dan informasi kepolisian merupakan pelajar di salah satu sekolah di Lombok Barat.

Sementara itu, untuk nama kedua atas nama HA, siswa ini memang pernah terdata di SMAN 1 Gunungsari. Namun, sejak bulan September 2025, orang tuanya HA sudah menarik data anak tersebut.

“Yang bersangkutan tidak lagi bersekolah di SMAN 1 Gunungsari setelah sebelumnya tinggal kelas dan tidak pernah aktif masuk sekolah,” lanjutnya.

Musrifin menyampaikan pihak sekolah sempat memfasilitasi kepindahan siswa tersebut ke SMA Terbuka agar hak pendidikannya tetap terjamin.

“Jadi, kedua anak itu saat ini tidak terdata sebagai siswa aktif di SMAN 1 Gunungsari,” tegas Musrifin.

Upaya Pendekatan

Musrifin mengungkapkan bahwa sebelum orang tua HA mencabut berkas, sekolah telah berupaya maksimal melakukan pembinaan.

Ia menambahkan, sekolah telah menempuh langkah mulai dari kunjungan rumah (home visit) hingga memanggil orang tua sebanyak tiga kali karena siswa yang bersangkutan kerap membolos dan jarang pulang ke rumah.

Kendati demikian, pihak sekolah tetap mengambil keputusan administratif secara berhati-hati guna menghindari putusnya hak pendidikan anak, hingga akhirnya memfasilitasi kepindahannya ke jalur pendidikan alternatif.

Imbauan untuk Warga Sekolah

Musrifin juga meminta seluruh warga sekolah dan para siswanya untuk tetap tenang serta tidak reaktif terpancing emosi.

“Saya menyampaikan kepada anak-anak, sabar, tidak usah reaktif, tidak perlu kalian berdebat. Faktanya, kejadian tersebut sama sekali tidak melibatkan siswa kita,” pungkasnya.

Pihak sekolah berharap klarifikasi ini dapat meluruskan kesalahpahaman di tengah masyarakat sekaligus memulihkan nama baik institusi pendidikan SMAN 1 Gunungsari dari pencatutan identitas yang keliru. (*)

Artikel Terkait