Ekonomi BisnisOlahraga

114 UMKM Lolos Kurasi MotoGP Mandalika, Jajanan Tradisional Langsung Ludes

Lombok Tengah (NTBSatu) – Gelaran MotoGP Mandalika 2026 membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk menjangkau konsumen lebih luas. Namun, besarnya dampak ekonomi bagi pelaku usaha masih perlu pemerintah ukur, bukan sekadar terlihat dari ramainya pengunjung.

Sebanyak 114 UMKM lolos kurasi untuk berjualan di dalam area Sirkuit Mandalika. Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyebut mayoritas peserta bergerak di bidang kuliner, lalu usaha kriya dan kerajinan.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM NTB, Wirawan Ahmad mengatakan, pihaknya melibatkan pelaku usaha dari kabupaten dan kota. Panitia juga berkoordinasi dengan asosiasi untuk menjaring peserta.

“Total UMKM 114 dalam sirkuit. Kalau di luar sirkuit lain yang menginisiasi,” jelasnya, Jumat, 9 Oktober 2026.

Ia mengatakan, seluruh peserta telah melewati proses kurasi dan mengikuti technical meeting. Panitia juga memberikan edukasi kepada pelaku usaha agar tidak menggunakan bahan plastik.

Menurut Wirawan, harga produk yang UMKM jual cukup terjangkau. Ia berharap transaksi tahun ini melampaui capaian sebelumnya karena informasi awal menunjukkan jumlah penonton lebih ramai.

Meski begitu, pemerintah belum menyampaikan angka target transaksi yang terukur. Karena itu, peningkatan jumlah penonton belum otomatis membuktikan peningkatan pendapatan UMKM.

Jajanan Tradisional Lombok Jadi Incaran

Peluang tersebut terasa oleh Wulan, pemilik Dapur Neng Wulan, yang berjualan di area Bazaar Mandalika. Ia mengaku bangga bisa memperkenalkan jajanan tradisional Lombok kepada pengunjung MotoGP.

Pada pagi hari, sejumlah jajanan yang ia bawa langsung habis terborong pembeli. Produk tersebut antara lain nagasari dan clorot, jajanan tradisional yang ia tawarkan kepada pengunjung.

“Ini sebuah kebanggaan di mana kami bisa menjajakan jajanan lokal di tempat ini,” kata Wulan.

Ia menilai pengunjung pada hari pertama cukup ramai. Namun, jumlah pembeli yang datang ke lapaknya masih berkisar belasan hingga puluhan orang.

Keikutsertaan kali ini menjadi pengalaman kedua Dapur Neng Wulan di Mandalika. Sebelumnya, usaha tersebut juga berjualan dalam kegiatan Pocari Run.

Wulan mengatakan penyelenggara memberikan kemudahan perizinan selama pelaku usaha melengkapi persyaratan dokumen. Ia juga sudah tergabung dalam grup koordinasi sejak sebelumnya.

Dampak Ekonomi Akan Diukur

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi NTB berupaya mengukur dampak MotoGP terhadap pelaku UMKM dan sektor pariwisata. Kepala Dinas Kominfotik NTB, Akhsanul Khalik, mengatakan pemerintah memberi perhatian khusus pada dampak ekonomi ajang tersebut.

Menurutnya, Badan Pusat Statistik (BPS) RI menurunkan tim untuk melakukan survei terkait aktivitas UMKM dan pergerakan orang sebelum serta setelah MotoGP.

“Insyaallah ini akan menjadi perhatian khusus, bahkan BPS RI ini turun full tim untuk melakukan survei pertama terkait UMKM seperti apa, kemudian pergerakan orang yang masuk ke NTB sebelum dan pasca MotoGP,” ujarnya.

Survei tersebut juga akan memantau pergerakan pengunjung menuju berbagai destinasi wisata di NTB selama gelaran berlangsung.

Pengukuran itu penting untuk melihat apakah kunjungan MotoGP benar-benar menghasilkan transaksi bagi UMKM lokal. Ramainya kawasan sirkuit baru menjadi salah satu indikator, bukan ukuran tunggal keberhasilan ekonomi. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait