Wisata Tetebatu Buka Peluang Ekonomi bagi Warga Lokal
Lombok Timur (NTBSatu) – Perkembangan pariwisata mulai mengubah wajah ekonomi masyarakat Desa Tetebatu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satu perubahan yang terlihat dari meningkatnya kepemilikan kendaraan roda empat warga, dari sekitar tujuh unit menjadi 80 unit.
Kepala Desa Tetebatu, Sabli mengatakan, perkembangan pariwisata membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Warga tidak lagi hanya mengandalkan sektor peternakan, tetapi mulai memanfaatkan peluang usaha yang tumbuh seiring meningkatnya aktivitas wisata.
“Barometer saya yang paling nyata, yang meningkat tingkatan ekonomi. Sebelum ramai wisata Tetebatu itu, yang punya roda empat itu kan cuma tujuh orang,” kata Sabli saat ditemui di Tetebatu, Minggu, 25 Oktober 2026.
Menurutnya, jumlah kendaraan roda empat milik warga kini mencapai sekitar 80 unit, termasuk kendaraan pikap. Sebagian warga memanfaatkan kendaraan tersebut untuk menunjang aktivitas pariwisata, terutama layanan transportasi bagi wisatawan.
Sabli melihat perubahan itu sebagai salah satu tanda, bahwa pariwisata memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kendaraan yang sebelumnya hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, kini juga berpotensi menghasilkan pendapatan melalui layanan angkutan wisata dan usaha lainnya.
Ciptakan Berbagai Peluang Ekonomi
Ia mengatakan, peluang ekonomi tersebut tidak hanya dinikmati pemilik kendaraan. Perkembangan wisata juga mendorong tumbuhnya pekerjaan sebagai pemandu, pengelola penginapan, serta pelaku usaha makanan dan minuman.
Sabli menyebut, salah satu kelompok pemandu wisata di Tetebatu memiliki sekitar 67 anggota. Jumlah itu menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam sektor jasa wisata.
“Belum kita melihat ibu-ibu yang bisa bekerja mencuci piring atau kadang-kadang yang ambil sayur,” katanya.
Peluang tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas wisata dapat membuka ruang kerja bagi warga, dengan latar belakang berbeda.
Masyarakat tidak harus memiliki penginapan atau kendaraan untuk memperoleh manfaat ekonomi. Mereka juga bisa terlibat melalui penyediaan makanan, jasa kebersihan, serta pasokan kebutuhan wisatawan.
Pertumbuhan Jumlah Kamar
Pertumbuhan fasilitas penginapan turut memperlihatkan perkembangan usaha wisata di desa tersebut. Sabli menyebut, data terakhir pada Desember 2025 mencatat 208 kamar dari 57 pemilik. Pada awal perkembangan pariwisata, jumlah kamar yang tersedia di Tetebatu sekitar 37 unit.
“Di awalnya mungkin 37 kamar semuanya. Nah, sekarang ini di 2025 itu terakhir, di bulan Desember datanya 208 kamar,” ujarnya.
Bertambahnya penginapan menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja, bahan pangan, dan layanan pendukung lainnya. Warung dan tempat makan, misalnya, membutuhkan sayuran serta bahan masakan untuk melayani wisatawan yang menginap maupun berkunjung.
“Selama apa yang dibutuhkan oleh masing-masing tempat wisata, kebutuhannya masih bisa kita dapatkan dari masyarakat setempat, maka kita akan memaksimalkan pengambilan atau pendistribusian bahan itu dari masyarakat,” kata Sabli
Namun, perkembangan pariwisata juga menghadirkan tantangan. Sabli menyoroti persaingan antara penyedia transportasi lokal dan layanan transportasi daring. Ia meminta kelompok transportasi wisata membangun organisasi yang memiliki legalitas agar mereka dapat menjalankan usaha secara lebih tertib.
Menurutnya, pelaku wisata perlu menjaga hubungan antarpelaku usaha sekaligus melindungi citra Tetebatu sebagai destinasi yang terus berkembang.
“Saya bilang ke mereka, Jangan sampai melakukan tindakan yang merusak citra Tetebatu,” tegasnya.
Sabli menilai, masyarakat perlu mengelola peluang pariwisata secara bersama-sama agar manfaatnya menjangkau lebih banyak warga.
Pertumbuhan kendaraan dan penginapan menjadi salah satu gambaran perubahan ekonomi, tetapi pemerataan pendapatan, kepastian usaha, serta keberlanjutan lingkungan tetap membutuhkan perhatian.
Dengan demikian, keberhasilan pariwisata Tetebatu tidak cukup diukur dari bertambahnya fasilitas dan kendaraan.
Keterlibatan masyarakat, terbukanya lapangan kerja, serta kemampuan usaha lokal menyerap hasil produksi warga juga menjadi bagian penting dalam menjaga manfaat pariwisata bagi perekonomian desa. (*)




