Empat Wilayah di Lombok Timur Dapat Dukungan Program Ekonomi Hijau dari Uni Eropa
Lombok Timur (NTBSatu) – Uni Eropa mendukung program ekonomi hijau di empat wilayah Lombok Timur pada 2026. Program ini menyasar irigasi tetes di lahan kering, pengembangan tenun, pemanfaatan biogas, dan pengolahan sargassum menjadi etanol.
Sekda Lombok Timur, M. Juaini Taofik, mengatakan program tersebut mengandalkan kolaborasi dengan lembaga internasional dan organisasi nonpemerintah (NGO).
Skema ini memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat tanpa menggunakan APBD.
“Uni Eropa membantu kita di tahun 2026 ini di empat titik. Ada di Suela dengan tema irigasi tetes di lahan kering, lalu di Sembalun berkaitan dengan bagaimana ekosistem tenun bisa terus berkembang,” kata Juaini, Selasa, 27 Oktober 2026.
Dua lokasi lainnya mencakup Desa Tetebatu Selatan dan Labuhan Haji. Di Tetebatu Selatan, program ini mendorong pemanfaatan biogas untuk mendukung UMKM gula aren.
Sementara di Labuhan Haji, masyarakat mengembangkan sargassum sebagai bahan baku etanol.
Juaini menyebut, Uni Eropa bekerja sama dengan NGO Venabulu serta sejumlah organisasi lokal. Mitra tersebut meliputi LRC, Gema Alam, Speaker Kampung, dan Sembalunnina.
“Pendekatannya langsung kepada penerima manfaat. Ada kepala keluarga, ada juga kelompok, misalnya untuk program biogas,” ujarnya.
Salah satu program yang menyentuh kebutuhan masyarakat ialah pengelolaan air di lahan kering Suela.
Warga Hadapi Keterbatasan Air Bersih
Direktur Speaker Kampung Indonesia, Hajad Guna Roasmadi atau Eros mengatakan, warga menghadapi keterbatasan sumber air untuk pertanian.
Mereka sulit menjangkau mata air. Pengeboran juga membutuhkan biaya besar karena kedalaman air tanah mencapai sekitar 150 meter.
“Di wilayah Tirtanadi tidak ada irigasi sama sekali. Masyarakat hanya mengandalkan air hujan. Dalam satu musim, mereka biasanya hanya menanam jagung, setelah itu berhenti,” jelas Eros.
Program ini menggabungkan penampungan air hujan dengan sistem irigasi tetes. Warga dapat menampung air melalui kolam atau atap dan talang, kemudian mengalirkannya secara bertahap ke tanaman.
Dengan cara tersebut, masyarakat berharap dapat memperpanjang musim tanam.
Selain jagung pada musim hujan, mereka menargetkan penanaman tembakau dan cabai pada musim berikutnya.
Juaini menilai, kolaborasi tersebut juga mendukung upaya pengentasan kemiskinan. Ia menyebut angka kemiskinan Lombok Timur turun dari 13,58 persen pada 2025 menjadi 12,68 persen pada 2026.
“Bapak Bupati ingin di akhir masa jabatan periode pertama, kemiskinan di Lombok Timur bisa satu digit,” katanya.
Untuk mencapai target itu, Pemkab Lombok Timur membuka peluang kerja sama dengan berbagai lembaga pendanaan.
Juaini berharap, Uni Eropa memperpanjang pendampingan agar program ekonomi hijau terus memberi manfaat bagi masyarakat. (*)




