KulinerLombok Timur

Ayam Rarang, Resep Keluarga yang Bertahan Tiga Generasi

Lombok Timur (NTBSatu) – Nama Ayam Rarang sudah dikenal luas masyarakat melalui sajian ayam pelecing khasnya. Di Desa Rarang, Kecamatan Terara, Lombok Timur.

Rumah makan ini memiliki dua menu andalan, yakni ayam pelecing dan ayam goreng. Keduanya hadir dengan karakter rasa berbeda, tetapi sama-sama menjadi pilihan pelanggan.

Ayam pelecing tampil dengan balutan bumbu merah berbahan cabai kering. Sementara ayam goreng hadir dengan cita rasa gurih dan disajikan bersama sambal bawang sebagai pelengkap.

IKLAN

Pemilik Rumah Makan Khas Rarang, Baiq Dina Nurani mengatakan, cita rasa tersebut menjadi bagian dari resep keluarga yang mereka pertahankan hingga sekarang.

“Yang khas dari Ayam Rarang itu memang ayam pelecingnya. Kita pakai cabai kering yang membuat warna dan rasanya berbeda. Kalau ayam goreng, kita sajikan dengan sambal bawang. Dua menu itu yang paling banyak dicari pelanggan,” kata Dina, Minggu, 4 Oktober 2026.

Popularitas rumah makan tersebut tidak hanya menarik warga sekitar. Sejumlah YouTuber hingga menteri juga pernah mampir untuk mencicipi Ayam Rarang ketika berkunjung ke Lombok Timur.

IKLAN

Kehadiran mereka ikut memperkenalkan kuliner khas Rarang kepada masyarakat yang lebih luas. Meski begitu, keluarga Dina tetap mempertahankan cara pengolahan yang mereka warisi dari generasi sebelumnya.

Resep yang Bertahan

Dina kini menjadi generasi ketiga yang ikut mengelola rumah makan tersebut. Ia telah menjalankan perannya selama sekitar tujuh tahun.

Menurut Dina, keluarganya mulai menjalankan usaha Ayam Rarang sekitar 1970-an. Saat itu, keluarganya membuka warung di depan masjid yang berada tidak jauh dari kawasan pasar.

“Dulu nenek yang mulai usaha ini. Tempatnya di depan masjid, dekat pasar. Waktu itu masih seperti warung biasa dan banyak travel yang berhenti di sana. Dari situ juga Ayam Rarang mulai dikenal banyak orang,” ujarnya.

Warung tersebut kemudian berkembang menjadi rumah makan yang tetap mempertahankan sajian ayam sebagai menu utama.

Hingga kini, nenek Dina masih ikut mengelola usaha keluarga tersebut. Regenerasi pun berjalan dengan melibatkan anggota keluarga dari generasi berikutnya.

“Kalau saya sendiri sudah sekitar tujuh tahun di sini. Awalnya dulu saya di cabang yang seberang. Tapi sekarang sudah di kasih ke adik,” katanya.

Kunci pada Cabai Kering

Bagi Dina, cabai kering menjadi salah satu kunci yang membuat ayam pelecing memiliki rasa berbeda dari olahan ayam lainnya.

Keluarga menggunakan ayam kampung muda yang berusia sekitar satu hingga satu setengah bulan. Sebelum masuk ke bumbu, ayam terlebih dahulu dibakar menggunakan arang dari kayu kemiri.

“Biasanya kita pakai ayam kampung yang masih muda, sekitar satu bulan lebih, kadang 40 sampai 45 hari. Ayamnya dibakar dulu baru dimasukkan ke bumbu,” jelas Dina.

Proses tersebut menghasilkan aroma bakaran yang kemudian menyatu dengan bumbu merah.

Dina mengatakan, keluarga tetap mempertahankan proses tersebut agar rasa Ayam Rarang tidak berubah meski usaha terus berkembang.

“Bumbunya kita goreng dulu, kemudian ayamnya dimasukkan. Jadi bumbunya langsung menyatu dengan ayam. Cara seperti itu yang kita pertahankan dari dulu supaya rasanya tetap sama,” ujarnya.

Ratusan Ekor Sehari

Rumah makan tersebut kini mampu mengolah ratusan ekor ayam setiap hari. Dina menyebut kebutuhan ayam berkisar 300 hingga 400 ekor per hari.

Saat ramai, jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 200 orang. Satu ekor ayam biasanya mereka bagi menjadi dua porsi.

“Kalau sehari kadang 300 sampai 400 ekor. Kalau kondisi ramai, pengunjung bisa sekitar 200 orang. Satu ayam itu biasanya menjadi dua porsi,” ungkap Dina.

Untuk menikmati ayam pelecing maupun ayam goreng, pelanggan cukup membayar sekitar Rp35 ribu per porsi.

Rumah makan tersebut juga memiliki hampir 40 pekerja. Salah satu juru masaknya bahkan telah bekerja selama belasan tahun.

“Pegawainya sekarang sudah hampir 40 orang. Juru masaknya juga sudah lama bekerja di sini, ada yang sampai belasan tahun. Jadi mereka sudah memahami bagaimana cara menjaga rasa masakan,” katanya.

Tetap dari Rarang

Di sepanjang jalan, masyarakat dapat menemukan sejumlah tulisan yang menggunakan nama Ayam Rarang. Namun, Dina memastikan rumah makan keluarganya hanya memiliki satu cabang resmi.

“Kalau yang benar-benar cabang dari sini cuma satu. Memang banyak tulisan Ayam Rarang di jalan, tetapi bukan semuanya cabang kita. Yang menjadi cabang resmi hanya yang keluarga kelola,” tegasnya.

Keluarga juga sempat mencoba mengembangkan Ayam Rarang dalam bentuk produk kemasan. Upaya tersebut telah mereka jalankan sekitar lima tahun, tetapi distribusinya belum berkembang sesuai harapan.

Untuk sementara, keluarga masih fokus menjadikan rumah makan di Rarang sebagai pusat penjualan. Rumah makan tersebut buka setiap hari dan terus menerima pelanggan dari berbagai daerah.

Bagi Dina, menjaga usaha keluarga berarti menjaga lebih dari sekadar nama. Ia ingin cita rasa yang telah diwariskan selama tiga generasi tetap hadir di setiap porsi ayam yang tersaji.

“Yang kita jaga itu rasanya tetap sama. Karena ini resep keluarga dan sudah diteruskan sampai tiga generasi. Jadi jangan sampai rasa yang sudah dikenal orang berubah,” kata Dina.

Dari warung sederhana di depan masjid hingga rumah makan dengan puluhan pekerja, Ayam Rarang terus bertahan di tempat asalnya.

Ayam pelecing dengan bumbu cabai kering dan ayam goreng bersama sambal bawang menjadi dua sajian yang menjaga cerita kuliner keluarga tersebut tetap hidup. (*)

Artikel Terkait