Lombok TimurPemerintahan

Ancaman Kekeringan di Lombok Timur, Bupati Waspadai Kasus 2016 Terulang

Lombok Timur (NTBSatu)– Ancaman kekeringan kembali membayangi Kabupaten Lombok Timur. Memasuki Oktober 2026, hujan belum menunjukkan tanda-tanda berarti, sementara kebutuhan air masyarakat terus meningkat.

Kondisi tersebut membuat Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, mengingat kembali krisis kekeringan yang melanda daerah itu pada 2016. Saat itu, kekeringan panjang memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat, terutama petani.

Haerul mengatakan, pemerintah ketika itu harus turun tangan membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan pertanian. Salah satunya dengan mengerahkan tangki untuk menyiram lahan pertanian.

“Kita sudah alami dulu ya tahun 2016. Banyak sekali kita bantu masyarakat, sampai dengan membawa tangki untuk menyirami tanaman-tanaman mereka,” kata Haerul, Kamis, 8 Oktober 2026.

Menurutnya, kekeringan tidak hanya membuat petani kesulitan mendapatkan air.

Kondisi tersebut juga mengganggu produktivitas pertanian sehingga masyarakat tidak mampu mengoptimalkan hasil panen.

Penurunan hasil pertanian kemudian berdampak pada pendapatan masyarakat.

Haerul menyebut, kondisi ekonomi masyarakat saat itu semakin rapuh hingga turut mendorong bertambahnya kemiskinan.

“Semakin banyak kemiskinan, karena mereka tidak bisa mengoptimalkan hasil pertaniannya karena kekeringan itu,” ujarnya.

Haerul khawatir persoalan serupa kembali terjadi apabila kekeringan berlangsung lebih panjang. Terlebih, masyarakat sudah memasuki Oktober yang secara umum menjadi awal periode musim hujan.

“Jadi mulai dari Oktober sampai dengan Maret adalah musim hujan. Ini kita sudah masuk bulan Oktober, belum ada apa-apa, belum ada tanda-tanda,” katanya.

Debit Air PDAM Mulai Menurun

Dampak keterbatasan air, menurut Haerul, mulai terlihat pada layanan air bersih. Ia mencontohkan PDAM yang mulai menerapkan sistem distribusi bergiliran kepada masyarakat.

Warga yang sebelumnya mendapatkan pasokan air secara rutin kini harus menunggu hingga dua atau tiga hari untuk kembali menerima distribusi.

“Sekali dua hari, sekali tiga hari, dan seterusnya. Apakah ini tidak termasuk parah? Parah kita,” tegasnya.

Pemkab Lombok Timur kini menyiapkan langkah mitigasi untuk menekan risiko kekeringan. Haerul menyebut, pihaknya telah mengumpulkan jajaran terkait untuk membahas langkah antisipasi, khususnya yang berkaitan dengan pengairan dan kebutuhan masyarakat.

Ia juga mengingatkan ancaman terbesar berada pada sektor pertanian. Petani yang sudah telanjur menanam dapat mengalami kerugian jika tanaman mereka tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.

“Terutama masyarakat petani kita yang telanjur menanam, kemudian mereka tidak dapat air misalnya, maka otomatis tanaman akan mati,” katanya.

Karena itu, Haerul meminta seluruh pihak melakukan antisipasi sebelum kekeringan berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Selain langkah teknis, Pemkab Lombok Timur juga menggelar salat istisqa sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan. (*)

Artikel Terkait