Lombok Barat

44 Ribu Warga Lobar Terdampak Kekeringan, BPBD Salurkan 1,6 Juta Liter Air

Lombok Barat (NTBSatu) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat mencatat, 14.827 kepala keluarga atau 44.093 jiwa terdampak kekeringan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lobar, Toni Hidayat menyebut, BPBD telah menyalurkan 1.614.850 liter air bersih hingga 20 Oktober 2026.

“Total jumlah distribusi air sampai tanggal 20 Oktober 2026 kemarin berkisar 1.614.850 liter,” jelas Toni kepada NTBSatu, Rabu, 21 Oktober 2026.

Besarnya volume distribusi tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih di wilayah terdampak kekeringan masih tinggi. Karena itu, BPBD terus mengandalkan penyaluran air untuk memenuhi kebutuhan dasar warga selama kemarau.

Warga Terdampak Bertambah

Jika kita bandingkan dengan data akhir September, jumlah warga terdampak mengalami peningkatan. Pada 28 September 2026, BPBD Lombok Barat mencatat 11.529 KK atau 34.064 jiwa terdampak kekeringan.

Dengan demikian, dalam kurun waktu sekitar tiga pekan, jumlah keluarga terdampak bertambah 3.298 KK. Sementara itu, jumlah penduduk terdampak meningkat sebanyak 10.029 jiwa.

“Jumlah masyarakat terdampak mencapai 11.529 jiwa atau 34.064 KK,” kata Toni kepada NTBSatu pada September 2026.

Sejak awal penanganan pada Juni 2026, BPBD Lombok Barat terus menyalurkan air bersih ke wilayah terdampak. Hingga 20 Oktober, total distribusi telah mencapai lebih dari 1,6 juta liter.

Selain BPBD, sejumlah instansi turut membantu distribusi air bersih. Kolaborasi tersebut melibatkan BPBPK, PDAM Giri Menang, BWS, dan sejumlah instansi lainnya.

Prediksi Musim Hujan di Akhir November 

Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) NTB, Nuga Putrantijo mengatakan, fenomena El Niño yang sangat kuat memperpanjang musim kemarau tahun ini. Fenomena tersebut juga menggeser awal musim hujan dari pola biasanya.

“Fenomena El Niño yang sangat kuat ini yang menyebabkan lebih panjangnya musim kemarau kita di tahun 2026. Dan juga menyebabkan musim hujan di tahun 2026 mundur,” kata Nuga kepada NTBSatu beberapa waktu lalu.

Secara khusus, BMKG memprediksi zona musim NTB 1 mulai memasuki musim hujan pada dasarian ketiga November. Zona tersebut mencakup Kota Mataram dan sebagian wilayah Lombok Barat.

Dasarian ketiga merupakan periode sepuluh hari terakhir dalam satu bulan. Meski demikian, awal musim hujan tidak selalu terjadi serentak di seluruh wilayah.

Nuga menjelaskan, hujan yang turun sesekali belum otomatis menandai awal musim hujan. BMKG menggunakan kriteria curah hujan dan konsistensi hujan untuk menentukan pergantian musim.

Suatu dasarian harus mencatat curah hujan minimal 50 milimeter. Kondisi tersebut juga harus berlanjut pada dua dasarian berikutnya agar memenuhi kriteria awal musim hujan.

“Minimal 50 milimeter per sepuluh harian. Itu baru dikatakan sudah masuk musim hujan,” jelasnya.

Selain memundurkan awal musim hujan, BMKG memperkirakan musim hujan 2026- 2027 berlangsung lebih pendek. Namun, intensitas hujan pada periode tersebut diprediksi lebih tinggi.

Kondisi ini menuntut pemerintah daerah mengantisipasi dua risiko sekaligus. Kekeringan masih mengancam ketersediaan air, sedangkan hujan berintensitas tinggi dapat meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor.

“Yang perlu kita waspadai dengan pendeknya musim hujan nanti itu adalah bencana hidrometeorologis,” ujar Nuga.  (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait