Tak Hanya Masjid Kuno, Disbud NTB Ajak Mahasiswa Mengenal Adat Bayan
Lombok Utara (NTBSatu) – Bayan menyimpan warisan budaya yang jauh lebih luas daripada Masjid Kuno Bayan Beleq. Hutan adat, mata air, kolam Mandala, hingga rumah adat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang masih menjaga tradisi leluhur.
Dinas Kebudayaan (Disbud) NTB mengajak ratusan mahasiswa dan masyarakat mengenal potensi itu. Mereka melaksanakan kegiatan Jelajah Bayan di Kabupaten Lombok Utara, Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.
Kepala Disbud NTB, Muhamad Ihwan mengatakan, kegiatan ini bertujuan mengenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda. Ia berharap, mahasiswa tidak hanya mengenal tradisi, tetapi juga bangga terhadap identitas budaya NTB.
“Intinya kami ingin mengenalkan sekaligus membuat mahasiswa bangga, kita jangan malu jadi orang Nusa Tenggara Barat. Kita memiliki semuanya di sini, terutama di Bayan,” ujar Ihwan, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Ia juga menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong Bayan menjadi situs warisan dunia. Namun, upaya itu membutuhkan pengenalan dan pemahaman yang lebih luas terhadap kekayaan budaya setempat.
Dari Masjid Kuno hingga Hutan Adat
Kepala Desa Bayan, Satradi mengatakan, masyarakat selama ini kerap mengidentikkan Bayan dengan Masjid Kuno Bayan. Padahal, desa tersebut memiliki beragam destinasi budaya dan alam yang saling berkaitan.
“Kami sengaja membuat rute mulai dari Masjid Bayan Kuno, lalu kita ke hutan adat, terus ke Kolam Mandala, dan berakhir di Rumah Adat Bayan Timur,” kata Satradi menjelaskan rincian kegiatan.
Menurutnya, Bayan juga memiliki sawah terasering, empat kawasan hutan adat, mata air, dan air terjun. Kekayaan tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat yang masih mempertahankan adat istiadat.
Satradi menyebut, hutan adat di Desa Bayan memiliki luas sekitar 84 hektare. Kawasan itu juga menyimpan 37 mata air yang menunjang kehidupan masyarakat.
Pemerintah desa bersama masyarakat berupaya menjaga kelestarian kawasan tersebut melalui sejumlah praktik adat. Salah satunya, program reboisasi yang mereka lakukan setiap tahun.
Masyarakat juga menggelar selamatan mata air sebanyak sembilan kali setiap tahun. Tradisi itu menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap sumber air yang mereka jaga.
Ratusan Peserta Ikut Jelajahi Budaya
Kepala Bidang Pelindungan dan Pelestarian Dinas Kebudayaan NTB, Azizuddin mengatakan, kegiatan tersebut melibatkan peserta dari berbagai kalangan. Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi menjadi salah satu kelompok utama dalam kegiatan itu.
Ia menyebut, peserta mahasiswa berasal dari Universitas Mataram, Universitas Nahdlatul Wathan, Undikma, Universitas Bumi Gora, UNU NTB, Universitas Muhammadiyah Mataram, Universitas Bima Internasional, dan STKIP Hamzar.
Azizuddin memperkirakan jumlah mahasiswa yang mengikuti kegiatan mencapai sekitar 75 orang. Selain itu, kegiatan juga melibatkan jajaran organisasi perangkat daerah dan masyarakat. Berdasarkan data pendaftaran dan perkiraan panitia, jumlah peserta secara keseluruhan mencapai sekitar 300 orang.
Salah seorang peserta dari STKIP Hamzar Lombok Utara, Redi, mengaku memperoleh pemahaman baru tentang aturan adat Bayan. Ia menilai kegiatan tersebut membantunya melihat langsung bagaimana masyarakat menjaga hutan dan tradisi.
“Terkait dengan kegiatan ini menurut kami sangat luar biasa. Kami jadi mengetahui bagaimana awig-awig hutan adat yang ada di Bayan, hukum adatnya, dan peraturan-peraturan yang ada di Bayan ini,” ujar Redi kepada NTBSatu.
Ia juga mengapresiasi perhatian masyarakat terhadap kelestarian hutan adat dan keberlanjutan tradisi setempat.
Melalui kegiatan ini, Disbud NTB berharap generasi muda semakin mengenal dan menghargai warisan budaya daerah. Tantangan berikutnya ialah memastikan pengetahuan itu tumbuh menjadi kepedulian nyata terhadap pelestarian adat Bayan. (*)




