Lombok UtaraPariwisata

Wisatawan Asing Kritik Tajam Penggunaan Cidomo di Gili Trawangan

Lombok Utara (NTBSatu) – Kritik tajam dari wisatawan asing terhadap penggunaan kereta kuda tradisional atau cidomo kembali mencuat di Gili Trawangan. Kritik ini menyusul dokumentasi visual yang mengungkap kondisi kesejahteraan hewan yang menurutnya cukup memprihatinkan.

Gelombang  protes wisatawan ini menyoroti bagaimana aktivitas pariwisata sering kali mengabaikan penderitaan makhluk hidup demi alasan kepraktisan semata. Hal ini sesuai dengan kritik yang wisatawan tersebut tulis di media sosialnya.

“Pariwisata menciptakan permintaan. Dan pilihan kita menentukan apa yang terus menguntungkan. Tolong, jangan menjadi bagian darinya,” tulisnya, mengutip akun TikTok Danial pada Senin, 26 Oktober 2026.

Realitas Ruang Hidup Kuda Gili

Para aktivis dan wisatawan juga mendokumentasikan fakta mengejutkan mengenai masa hidup kuda pekerja di Kepulauan Gili yang sangat singkat. Berdasarkan laporan kesejahteraan hewan, kuda-kuda tersebut umumnya hanya mampu bertahan hidup selama 1 hingga 3 tahun saja.

Angka ini sangat kontras dengan rentang usia normal seekor kuda yang lazimnya mencapai 25 hingga 30 tahun. Selain durasi hidup yang drastis menyusut, berbagai temuan lapangan juga mencatat banyak kasus luka-luka terbuka, gejala kepincangan parah, kerusakan struktur kuku, serta kondisi badan kuda yang mengalami kekurangan berat badan ekstrem.

Lebih lanjut, para pelancong mengkritik langsung buruknya lingkungan tempat tinggal kuda-kuda malang itu setelah jam kerja berakhir. Pemilik menempatkan hewan-hewan tersebut ke dalam kandang berukuran sangat sempit tanpa ruang gerak yang memadai.

Sebagian kuda bahkan terpaksa berdiri dan tidur di atas tumpukan kotoran mereka sendiri. Wilayah pulau yang gersang dan ketiadaan padang rumput hijau membuat kuda tidak mempunyai kesempatan untuk merumput secara bebas di alam terbuka.

Mereka menggambarkan rutinitas harian kuda hanya berputar pada siklus yang melelahkan seperti makan, berdiri di kandang sempit, tidur di tengah kotoran, lalu kembali bekerja menarik beban berat keesokan harinya.

Seruan Menggunakan Transportasi Mandiri

Menanggapi situasi tersebut, wisatawan mendesak pelancong lain untuk segera menghentikan kebiasaan menyewa cidomo. Terutama hanya demi menghindari kerepotan membawa koper atau barang bawaan.

Mengingat wilayah Kepulauan Gili yang relatif kecil, para turis membuktikan berjalan kaki, mengendarai sepeda, atau memakai skuter listrik merupakan alternatif mobilitas yang sangat mungkin dilakukan tanpa harus menyiksa hewan.

“Kami pun berjalan kaki bersama bagasi kami, dan itu sangat bisa dilakukan. Tidak ada satu pun foto liburan atau kenyamanan sepuluh menit yang sepadan untuk mendukung penderitaan hewan,” tegasnya.

Imbauan keras ini menekankan setiap individu memegang kendali penuh atas pilihan mereka saat berlibur. Menurut wisatawan tersebut, menolak menggunakan cidomo dapat memutus rantai eksploitasi dan memaksa penyedia jasa mengubah model bisnis mereka.

NTBSatu sudah berusaha menghubungi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara (Dispar KLU) melalui pesan singkat WhatsApp. Namun hingga berita ini terbit, belum ada tanggapan apa pun. (*)

Artikel Terkait