Pendidikan

Tak Sekadar Belajar, Sekolah Rakyat di NTB Tangani Anak Trauma hingga Putus Harapan

Mataram (NTBSatu) – Program Sekolah Rakyat di Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya berfokus pada pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Tetapi juga, menangani persoalan psikologis dan trauma sebagian siswa.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (P3A) NTB, Ahmad Masyhuri mengatakan, banyak anak yang masuk Sekolah Rakyat memiliki latar belakang kehidupan berat. Mulai dari kemiskinan hingga pengalaman traumatis.

“Kadang ada anak yang melamun terus, diam, seperti nggak punya harapan,” ujarnya kepada NTBSatu, Jumat 8 Mei 2026.

IKLAN

Ia mencontohkan, salah satu siswa di Sekolah Rakyat Gunungsari yang mengalami trauma setelah menyaksikan ayahnya meninggal saat gempa Lombok 2018. “Ternyata anak ini waktu gempa lihat bapaknya meninggal di depan matanya,” katanya.

Menurut Ahmad, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan Sekolah Rakyat. Karena itu, beberapa sekolah kini mendapat pendampingan psikolog untuk membantu pemulihan mental siswa.

“Disiapkan psikolog untuk anak-anak yang memiliki trauma,” jelasnya.

Banyak Anak Sulit Berpisah dengan Keluarga

Selain persoalan trauma, Sekolah Rakyat juga menghadapi tantangan karena menggunakan sistem boarding school atau asrama. Program ini menyasar anak dari keluarga desil 1 dan 2 atau kategori miskin ekstrem dan miskin.

Namun tidak semua keluarga siap melepas anak mereka tinggal jauh dari rumah, terutama untuk jenjang SD. “Kadang orang tuanya mau, neneknya nggak mau,” ujarnya.

Total rata-rata kapasitas sekolah sekitar 100 siswa. Khusus jenjang SMA, kapasitas ditargetkan mencapai 125 siswa, sementara di Sumbawa sebanyak 75 siswa.

Ia mengatakan, mencari siswa Sekolah Rakyat justru menjadi tantangan tersendiri meski program tersebut untuk masyarakat miskin. “Nyari sasaran Sekolah Rakyat ini gampang-gampang susah,” katanya.

Menurutnya, banyak anak yang menangis atau memilih pulang setelah masuk asrama karena belum terbiasa jauh dari keluarga.

Terapkan Sistem Akselerasi

Ahmad menjelaskan, Sekolah Rakyat juga menerapkan sistem percepatan belajar bagi anak-anak yang terlambat sekolah. Agar tetap bisa menyelesaikan pendidikan sesuai batas usia.

Misalnya, anak usia 14 tahun yang masih duduk di kelas 4 SD akan dipercepat proses belajarnya agar bisa mengejar ketertinggalan. “Kalau nggak dikejar sekarang, nanti habis umurnya,” katanya.

Ia menyebut, sistem asrama membuat proses pembelajaran lebih intensif karena siswa dapat belajar hingga sore hari. Saat ini, sekolah persiapan Sekolah Rakyat di NTB tersebar di beberapa wilayah seperti Gunungsari, Lombok Barat, Lombok Timur, hingga Sumbawa.

Sementara itu, pembangunan sekolah permanen baru berjalan di Kabupaten Lombok Utara. Sedangkan, beberapa daerah lain masih dalam tahap pengusulan lahan. (Caca)

Artikel Terkait

Back to top button