Angka Stunting Sumbawa Masih 29,8 Persen, Pemkab Kejar Target Penurunan
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa, terus menggencarkan percepatan penurunan stunting. Hal ini setelah angka prevalensi stunting masih berada di level 29,8 persen berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
Melalui berbagai intervensi lintas sektor, Pemkab Sumbawa menargetkan angka tersebut turun menjadi 21,7 persen. Penurunan tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Rusmayadi menjelaskan, penanganan stunting tidak bisa secara parsial. Melainkan, membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.
“Target penurunan stunting menjadi 21,7 persen hanya bisa tercapai melalui kerja sama semua sektor dan intervensi kebijakan yang terintegrasi,” jelas Rusmayadi kepada NTBSatu, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurutnya, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, tetapi menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Anak stunting tidak hanya mengalami gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan belajar dan konsentrasi,” ujarnya.
Rusmayadi mengatakan, dampak stunting akan berpengaruh panjang terhadap kualitas pendidikan hingga produktivitas ekonomi masyarakat.
“Prestasi akademik anak stunting cenderung lebih rendah dan saat dewasa produktivitas kerjanya juga berpotensi menurun,” katanya.
Ancaman Serius Menghadapi Bonus Demografi
Ia mengingatkan, tingginya angka stunting dapat menjadi ancaman serius bagi kesiapan daerah dalam menghadapi bonus demografi dan mewujudkan generasi emas 2045.
“Jika stunting tidak ditekan, kita akan kesulitan mencetak generasi unggul, inovatif, dan berdaya saing di masa depan,” tambahnya.
Selain berdampak pada kualitas SDM, anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis saat dewasa, seperti diabetes dan hipertensi.
“Kondisi ini akan meningkatkan beban kesehatan keluarga maupun pemerintah daerah dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Rusmayadi juga menyoroti, keterkaitan erat antara stunting dan kemiskinan antargenerasi. Menurutnya, keluarga miskin lebih rentan melahirkan anak stunting, sementara anak stunting berpotensi menghadapi kesulitan ekonomi saat dewasa.
Sebagai langkah percepatan penanganan, Pemkab Sumbawa telah menjalankan program quick wins yang difokuskan pada aksi konvergensi penurunan stunting hingga tingkat desa.
“Program quick wins berfokus pada pemberdayaan masyarakat desa, agar mampu meningkatkan kualitas hidup secara mandiri. Terutama dalam bidang kesehatan, gizi, dan kesejahteraan keluarga,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan, keberhasilan penurunan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Kami berharap semua pihak, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat, hingga warga, bergerak bersama untuk memutus mata rantai stunting di Sumbawa,” tambahnya.
Pemkab Sumbawa kini terus mendorong penguatan intervensi kesehatan, edukasi gizi, sanitasi, hingga pemberdayaan keluarga sebagai strategi utama menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas generasi masa depan daerah. (Marwah)




