Produksi Padi NTB Tetap Aman Meski Kemarau Panjang
Mataram (NTBSatu) – Pemprov NTB optimistis produksi padi tahun 2026 mampu melampaui capaian tahun sebelumnya, meskipun ancaman musim kemarau panjang masih membayangi wilayah tersebut.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi NTB mencatat potensi produksi padi saat ini sudah menyentuh 1.687.000 ton Gabah Kering Giling (GKG).
Kepala DPKP NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah mengatakan, angka berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) ini mendekati realisasi produksi sepanjang tahun 2025 yang berada di kisaran 1,7 juta ton.
“Produksi di hulu dalam kondisi aman. Stok di Gudang Bulog saat ini juga sudah mencatatkan angka 200.000 ton beras,” ujar Lalu Mirza Amir Hamzah, Senin 19 Oktober 2026.
Mirza menegaskan, kemarau panjang tidak memberikan dampak signifikan terhadap total produksi padi hulu. Keberhasilan ini terwujud karena para petani menerapkan strategi substitusi dan adaptasi komoditas sesuai ketersediaan air.
Ia membeberkan, para petani mengalihkan pilihan tanaman pada lahan yang minim air ke komoditas lain yang lebih tahan kering. Seperti jagung, tembakau, dan tanaman palawija.
“Petani menyesuaikan jenis tanaman dengan kebutuhan air. Padi memerlukan air yang cukup, sementara lahan terbatas air mengoperasikan tanaman lain seperti jagung dan tembakau,” jelasnya.
Penanganan Lahan Kekeringan
Mirza menjelaskan, untuk menekan risiko kerugian petani, Pemprov NTB menggandeng BPS dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Kolaborasi ini guna memantau kondisi lahan pertanian terdampak kekeringan setiap hari.
Ia menyebut, petugas mengelompokkan lahan terdampak ke dalam tiga kategori, yakni ringan, sedang, dan berat.
Lebih lanjut, Mirza mengatakan pemerintah menyalurkan bantuan suplai air dari BBWS begitu lahan masuk dalam tingkat dampak kategori sedang. Langkah ini bertujuan untuk mencegah timbulnya puso atau gagal panen total di tingkat petani.
Ia menyebut sebagai contoh penanganan lapangan, pemerintah baru-baru ini memperbaiki saluran sekunder untuk memulihkan aliran air ke 170 hektare lahan jagung yang sempat terdampak di wilayah Tempos, Lombok Barat. (*)




