Lombok TimurPemerintahan

Digitalisasi Dorong PAD Lombok Timur Naik Jadi Rp557 Miliar

Lombok Timur (NTBSatu) – Digitalisasi turut mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lombok Timur. Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin menyebut, PAD itu meningkat dari Rp383 miliar pada 2023 menjadi Rp557 miliar pada 2025.

Haerul mengatakan pemerintah mulai memperkuat pemanfaatan sistem digital dalam pengelolaan pemerintahan dan penerimaan daerah. Langkah tersebut menurutnya ikut mendukung peningkatan PAD dalam beberapa tahun terakhir.

“2023 PAD Lombok Timur hanya di angka Rp383 miliar. Kemudian tahun 2024 meningkat menjadi Rp480 miliar,” kata Haerul, Rabu, 7 Oktober 2026.

Kenaikan tersebut berlanjut pada 2025. Haerul menyebut, PAD Lombok Timur kembali meningkat hingga mencapai Rp557 miliar.

Menurutnya, pemerintah mulai memanfaatkan berbagai sistem digital dalam pengelolaan pemerintahan. Pemanfaatan teknologi membantu pemerintah membuka ruang yang lebih luas untuk mengelola dan mengawasi berbagai sumber penerimaan daerah.

“2025 kita genjot lagi. Alhamdulillah dari Rp480 miliar karena kita menggunakan digitalisasi meningkat menjadi Rp557 miliar,” ujarnya.

Dengan capaian tersebut, Haerul menilai digitalisasi tidak hanya berkaitan dengan pelayanan publik. Teknologi juga memberikan manfaat terhadap pengelolaan keuangan daerah dan peningkatan penerimaan.

Ia mengatakan, perkembangan digitalisasi telah masuk ke berbagai sektor kehidupan. Pemerintah memanfaatkannya dalam pemerintahan, sementara masyarakat menggunakannya untuk pendidikan, ekonomi, komunikasi, hingga aktivitas sosial.

Namun, Haerul mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar tidak hanya melihat manfaat digitalisasi. Perkembangan teknologi juga membawa sejumlah risiko, terutama ketika masyarakat belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai keamanan digital.

“Digitalisasi ini menguntungkan untuk kita semua. Menguntungkan untuk pribadi, kelompok, komunikasi, pemerintahan, dan seluruh masyarakat,” katanya.

Soroti Penyalahgunaan Ruang Digital

Di sisi lain, Haerul menyoroti persoalan penyalahgunaan ruang digital, termasuk judi online (judol) dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan literasi agar dapat memanfaatkan teknologi secara tepat sekaligus menghindari berbagai risikonya.

Ia juga mendorong mahasiswa ikut mengambil peran dalam memperkuat literasi digital. Haerul ingin mahasiswa menjadi agen edukasi dan perubahan yang membantu masyarakat memahami penggunaan teknologi secara aman.

“Para mahasiswa, kita jadikan mereka agen edukasi, agen literasi, agen perubahan terhadap apa yang dilakukan dalam komunikasi digitalisasi yang benar dan baik,” ujarnya.

Haerul menegaskan keamanan digital bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ia mengajak masyarakat, keluarga, mahasiswa, dan berbagai kelompok lainnya ikut membangun budaya digital yang aman.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemampuan masyarakat dalam menjaga data dan menggunakan informasi secara bijak.

Ia berharap, kegiatan literasi digital menjadi titik awal untuk membangun kebiasaan tersebut di lingkungan pemerintahan, kampus, keluarga, dan masyarakat Lombok Timur. (*)

Artikel Terkait