Lombok TimurPariwisata

Api Mulai Mereda, Kebakaran Rinjani Capai 1.098 Hektare

Lombok Utara (NTBSatu) – Kebakaran hutan di kawasan Gunung Rinjani mulai mereda. Namun, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) masih memantau sejumlah titik untuk memastikan api tidak kembali menyala.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha BTNGR, Astekita Ardiaristo mengatakan, hujan mulai membantu kondisi di kawasan kebakaran. Meski begitu, petugas tetap memantau lokasi karena vegetasi kering masih berpotensi memicu api.

“Cuaca hari ini menunjukkan kondisi cukup merata di lokasi kebakaran. Tim tetap melakukan pemantauan untuk memastikan tidak terdapat titik api yang masih aktif,” kata Astekita dalam keterangan tertulis BTNGR, Senin, 28 September 2026.

IKLAN

Kebakaran pertama kali muncul pada 22 September 2026 di kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkaraeng, jalur pendakian Senaru dan sekitarnya. Api kemudian menjalar ke kawasan sekitar Resort Torean dan Resort Senaru.

BTNGR memperkirakan kebakaran telah mencapai 1.098,75 hektare hingga 28 September 2026. Petugas masih memetakan area untuk memperbarui angka tersebut ketika kondisi lapangan memungkinkan.

Tim menghadapi sejumlah kendala saat menangani kebakaran. Angin kencang dapat mempercepat pergerakan api, sedangkan semak, rumput, perdu, material organik dan daun kering masih memenuhi sejumlah kawasan.

IKLAN

Selain itu, medan pegunungan yang jauh, terjal, dan sulit dijangkau juga membuat tim harus bekerja lebih keras untuk membawa personel serta peralatan menuju titik kebakaran.

“Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu pergerakan, akses menuju titik api, dan metode pemadaman,” ujar Astekita.

Libatkan 103 Personel

BTNGR melibatkan 103 personel dan tenaga pendukung dalam penanganan kebakaran. Mereka berasal dari BTNGR, Manggala Agni, KPH Rinjani Barat, MPA, Polri/Brimob, TNI, hingga porter.

Tim menempatkan personel di beberapa sektor sesuai kebutuhan. Mereka juga membawa peralatan pemadaman manual, perangkat komunikasi, kendaraan roda dua dan roda empat, serta perlengkapan lapangan.

Petugas memanfaatkan drone untuk memantau kondisi dari udara. Pemantauan itu membantu tim mengetahui perkembangan area yang terbakar, arah penyebaran api, serta kemungkinan titik yang masih menyimpan bara.

“Dalam penanganan kebakaran ini, kami berkoordinasi dengan BPBD Provinsi NTB, BPBD Kota Mataram, Manggala Agni, masyarakat peduli api, TNI, Polri/Brimob, serta unsur pemerintah lainnya,” kata Astekita.

Di sisi lain, BTNGR masih menutup jalur wisata pendakian Torean dan Senaru untuk sementara. Penutupan tersebut bertujuan menjaga keselamatan pengunjung, sekaligus memberi ruang bagi petugas untuk memantau dan menangani kebakaran.

BTNGR akan mengevaluasi kondisi jalur secara berkala sebelum membuka kembali akses pendakian.

“Status pembukaan kembali jalur wisata pendakian akan kami tentukan dengan mempertimbangkan hasil evaluasi penanganan kebakaran di wilayah kerja Resort Senaru dan Resort Torean,” kata Astekita.

BTNGR juga meminta calon pendaki yang telah memiliki e-tiket Senaru, sejak 26 September 2026 agar mengikuti arahan petugas. Pendaki dapat masuk melalui jalur Sembalun, apabila kondisi dan arahan lapangan memungkinkan. (*)

Artikel Terkait