PBS Petakan Hambatan dan Potensi Siswa di SDN 1 Teros
Lombok Timur (NTBSatu) – Profil Belajar Siswa (PBS) membantu guru memetakan hambatan sekaligus potensi peserta didik. Di SDN 1 Teros, Labuhan Haji, pemetaan melalui PBS menemukan 60 dari 245 siswa memiliki indikasi hambatan fungsional.
Baiq Suriatun, mantan Kepala SDN 1 Teros yang kini menjadi pengawas pendidikan di UPT Dikbud Labuhan Haji mengatakan, hasil PBS tidak semestinya hanya digunakan untuk melihat kesulitan siswa.
Menurutnya, pemetaan tersebut juga memberi gambaran mengenai kemampuan dan potensi yang dapat dikembangkan guru melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai.
“Jangan hanya melihat anak dari kekurangannya. Dari situ kita juga bisa melihat anak ini sebenarnya punya potensi apa,” kata Suriatun, Kamis, 24 September 2026.
Salah satu temuan di SDN 1 Teros adalah siswa kelas I yang menunjukkan kemampuan istimewa. Anak tersebut mampu mengingat berbagai materi tentang struktur bumi, ilmu pengetahuan hingga luar angkasa dan mempelajarinya secara mandiri.
Di sisi lain, anak tersebut mengalami kesulitan mengikuti aktivitas tertentu di kelas, terutama ketika mendapat tugas menulis. Kondisi itu membuat guru perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan dan karakter anak.
Suriatun mengatakan guru perlu memahami kondisi setiap anak sebelum menentukan cara mengajar. Perbedaan kemampuan tidak seharusnya membuat siswa mendapatkan perlakuan yang sama tanpa mempertimbangkan kebutuhan belajarnya.
“Kalau kita sudah tahu anaknya seperti apa, kita mencari cara bagaimana dia bisa belajar,” ujarnya.
Penjelasan tersebut sejalan dengan informasi pada laman Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen.
PBS membantu guru memperoleh gambaran profil belajar siswa, termasuk kebutuhan dan kesulitan belajar, sebagai dasar untuk menyesuaikan pembelajaran.
Di SDN 1 Teros, 60 siswa yang teridentifikasi memiliki indikasi hambatan fungsional tersebar dalam sejumlah kategori. Di antaranya kognitif, disleksia, motorik kasar, motorik halus, emosional, pendengaran dan penglihatan.
PBS Sebagai Rujukan
Suriatun menegaskan hasil pemetaan tidak boleh berhenti sebagai data. Guru perlu mencermati kembali kondisi siswa dan menentukan tindak lanjut berdasarkan kebutuhan masing-masing.
“Jadi bukan karena dia berbeda kemudian kita biarkan. Justru kita harus cari bagaimana caranya dia bisa berkembang,” katanya.
Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti sekolah melalui pengamatan dan pemeriksaan lebih lanjut. Enam siswa dengan indikasi hambatan penglihatan, misalnya, dirujuk ke Puskesmas Labuhan Haji untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan.
Menurut Suriatun, pendekatan tersebut penting agar guru tidak terburu-buru memberikan kesimpulan hanya berdasarkan hasil pengisian PBS.
Hasil pemetaan menjadi titik awal untuk memahami kondisi siswa secara lebih mendalam. “PBS itu membantu kita membuka mata, bahwa setiap anak itu punya kondisi yang berbeda-beda,” ujarnya.
Kini sebagai pengawas pendidikan, Suriatun mendorong sekolah menggunakan PBS untuk memahami kondisi peserta didik secara lebih utuh.
Data tersebut dapat menjadi dasar bagi guru untuk memberikan dukungan sekaligus mengembangkan potensi masing-masing anak. (*)




