Lombok TimurPariwisata

Tetebatu Mengubah Keseharian Warga Jadi Pengalaman Wisata

Lombok Timur (NTBSatu) – Wisatawan yang datang ke Desa Tetebatu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya diajak menikmati hamparan persawahan dan suasana pedesaan.

Mereka juga bisa menyaksikan kehidupan masyarakat, mencoba mengolah kopi secara tradisional, hingga mengikuti aktivitas keseharian warga.

Bagi Kepala Desa Tetebatu, Sabli, pengalaman seperti itulah yang membuat wisata desa memiliki daya tarik tersendiri. Ia ingin wisatawan mengenal kehidupan lokal secara langsung, bukan sekadar singgah untuk menikmati pemandangan.

“Konsep kami adalah membuat orang bule ini penasaran. Itu konsep utamanya. Apa yang dia lihat, dia penasaran, itu yang kita jual,” kata Sabli, Minggu, 25 Oktober 2026.

Menurutnya, masyarakat dapat mengubah aktivitas sehari-hari menjadi pengalaman wisata yang menarik.

Wisatawan, misalnya, bisa melihat ayam kampung berkeliaran, menyaksikan warga mengolah hasil pertanian, atau mencoba pekerjaan tradisional yang jarang mereka temui di negara asal.

Kehidupan Lokal Jadi Daya Tarik

Sabli menilai, setiap aktivitas lokal menyimpan cerita yang bisa menarik perhatian wisatawan. Karena itu, masyarakat perlu menjelaskan tradisi dan kehidupan mereka dengan cara yang membuat pengunjung ingin mengenal lebih jauh.

“Itu jadi semua yang ada kami buat menjadi harga kami. Semua ada harga jualan di sini,” ujarnya.

Bukan berarti setiap sudut desa harus berubah menjadi tempat komersial. Bagi Sabli, kuncinya terletak pada kemampuan masyarakat mengemas pengalaman lokal, menjadi kegiatan wisata tanpa kehilangan karakter kehidupan pedesaan.

Salah satu contohnya ialah paket cooking class atau kelas memasak. Wisatawan dapat belajar membuat minyak kelapa, menyangrai kopi, menumbuk biji kopi secara tradisional, hingga menyajikan hasil olahannya.

Sabli menyebut, salah satu paket pengolahan kopi menawarkan pengalaman lengkap dengan tarif Rp150 ribu untuk setengah kilogram kopi.

Wisatawan tidak hanya membawa pulang produk, tetapi juga mengenal proses pembuatannya.

“Dari cara memasak sampai cara menumbuk dan cara penyajiannya. Semua bisa dia ikuti,”terang Sabli.

Pengalaman semacam itu juga menjadi strategi untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan.

Sabli menjelaskan, pengelola menawarkan beberapa pilihan perjalanan, mulai dari tur desa, kunjungan ke Desa Loyok dan Pringgasela, hingga perjalanan menuju Air Terjun Benang Kelambu.

Ketika wisatawan ingin tinggal lebih lama setelah menyelesaikan paket utama, pengelola bisa menawarkan kegiatan tambahan.

Mereka dapat mengikuti kelas memasak, berkunjung ke rumah warga, atau menyaksikan pertunjukan budaya.

“Kita buatkan dia paket berkunjung ke masyarakat. Kalau memang terlalu membutuhkan acara, kita buatkan dia acara budaya,” ujarnya.

Di balik paket wisata tersebut, Sabli menempatkan keramahan sebagai bagian penting dari pelayanan. Ia ingin wisatawan merasa aman ketika berjalan di desa, termasuk saat mereka tersesat atau membutuhkan petunjuk arah.

Keamanan Wisatawan Jadi Prioritas.

Masyarakat, menurutnya, harus bersedia membantu pengunjung tanpa mempersulit mereka. Warga bahkan dapat mengantar wisatawan menuju penginapan apabila mereka kesulitan menemukan lokasi.

“Karena modal kita adalah keamanan. Jadi kita menjamin keamanan. Mau kapan pun dia beraktivitas di Tetebatu dia merasa aman,” katanya.

Sabli juga mendorong pelaku usaha membangun hubungan berdasarkan kepercayaan. Ia menceritakan pengalaman keluarganya berinteraksi dengan wisatawan asing yang tinggal cukup lama di Tetebatu.

Dalam beberapa kasus, hubungan tersebut berkembang menjadi persahabatan yang tetap terjalin meski wisatawan sudah meninggalkan desa.

Cerita itu menggambarkan hubungan yang tidak selalu berhenti pada transaksi antara tamu dan penyedia jasa.

“Baru sekali dia berkunjung kesini, langsung menawarkan bantuan dengan orang yang baru dia kenal. Itu tidak bisa terjadi kalau dia tidak percaya,” kata Sabli.

Namun, kepercayaan tersebut tetap perlu berjalan bersama kesepakatan yang jelas agar wisatawan maupun pelaku usaha terlindungi.

Wisata Buka Peluang bagi Petani

Di sisi lain, Tetebatu juga berupaya menghubungkan pariwisata dengan potensi pertanian lokal.

Sabli mengatakan, pelaku usaha sebisa mungkin membeli bahan pangan dari masyarakat, selama pasokannya tersedia. Warung dan tempat makan dapat menjadi pasar bagi hasil pertanian warga.

Desa tersebut juga berupaya menghidupkan kembali identitas kopi Tetebatu. Sabli menyebut, tanaman kopi yang masih tersisa kini diperkirakan sekitar 15 persen, dibandingkan masa ketika tanaman tersebut lebih banyak mendominasi kawasan.

Pemerintah desa pun menunggu distribusi bantuan bibit kopi untuk lahan seluas 25 hektare.

“Dengan harapan kita mengembalikan citra Tetebatu yang dulu pernah ada kopi Tetebatu asli, kita mengembalikannya,” kata Sabli.

Upaya itu dapat memperkaya pengalaman wisata, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani. Wisatawan tidak hanya menikmati kopi sebagai minuman, tetapi juga mengenal tanaman, proses pengolahan, dan cerita di balik produk lokal.

Bagi Sabli, pekerjaan membangun desa wisata tidak berhenti ketika pengunjung mulai berdatangan.

Masyarakat harus menjaga kualitas pelayanan, mengembangkan aktivitas yang menarik, dan melindungi reputasi desa.

Ia menyadari bahwa membangun kepercayaan membutuhkan waktu panjang, sedangkan satu tindakan yang merugikan wisatawan dapat merusak citra yang sudah terbentuk.

“Kalau merusak sih gampang. Satu menit, selesai. Tapi menanamkan rasa percaya, mengenal desa, mengenal tempat itu sulit,” ujarnya.

Di Tetebatu, daya tarik wisata tidak hanya tumbuh dari lanskap alam. Kehidupan warga, tradisi, hasil pertanian, dan cara masyarakat menyambut tamu turut membentuk pengalaman yang mereka tawarkan.

Tantangannya kini ialah menjaga agar aktivitas wisata tetap memberi manfaat bagi warga tanpa menghilangkan kehidupan lokal yang justru membuat desa itu menarik. (*)

Artikel Terkait