Lombok TimurPendidikan

Suriatun, “Kepala Sekolah Inklusi” di Lombok Timur

Lombok Timur (NTBSatu) – Sabtu menjadi waktu yang berbeda bagi Baiq Suriatun ketika masih memimpin SDN 1 Teros, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur. Saat sekolah mulai sepi, ia justru mengajak guru-guru duduk bersama.

Mereka tidak membicarakan laporan atau administrasi sekolah. Mereka membicarakan anak-anak di kelas.

Satu per satu guru menyampaikan cerita. Ada anak yang sulit diam, mengganggu teman, keluar kelas ketika pembelajaran berlangsung, hingga siswa yang sama sekali tidak mau mengikuti kegiatan.

IKLAN

Lalu, sebuah catatan membuat Suriatun terdiam. Seorang guru menyampaikan bahwa ada siswa kelas enam yang belum lancar membaca.

Suriatun langsung berpikir tentang usia dan jenjang anak tersebut. Ia merasa sekolah tidak bisa menganggap persoalan itu sebagai sesuatu yang biasa.

“Ini kelas enam, mereka sudah di tahap akhir, tetapi belum lancar membaca. Dari situ saya berpikir, kalau begini terus, kita tidak berhasil,” ujarnya kepada NTBSatu, Kamis, 24 September 2026.

IKLAN

Dari ruang refleksi sederhana itulah perjalanan Suriatun dalam pendidikan inklusi semakin panjang.

Bermula dari PBS

Saat itu, Dinas Pendidikan mengenalkan aplikasi Profil Belajar Siswa (PBS) untuk mendeteksi hambatan fungsional belajar anak. Suriatun tidak langsung meminta guru mengisinya. Ia membuka dan mempelajarinya sendiri.

Pertanyaannya menarik perhatian Suriatun. Aplikasi itu tidak hanya melihat kemampuan akademik, tetapi juga keseharian anak saat mengikuti pembelajaran, perilaku, minat, hingga potensi mereka.

Ia kemudian meminta guru mengisi setiap bagian berdasarkan kondisi nyata siswa. Suriatun bahkan menyandingkan jawaban wali kelas dengan guru mata pelajaran.

Menurutnya, seorang anak bisa saja tidak menyukai matematika, tetapi sangat menikmati olahraga. “Jangan diisi asal. Saya minta guru melihat kondisi anak satu per satu. Saya ingin hasilnya benar-benar menggambarkan mereka,” ujarnya.

Dari 245 siswa, hasilnya membuat Suriatun semakin yakin bahwa sekolah perlu melihat anak lebih dekat. Sebanyak 60 siswa terdeteksi memiliki hambatan fungsional.

Temuan itu mencakup aspek kognitif, disleksia, motorik, penglihatan, pendengaran, serta persoalan emosional dan perilaku sosial. Bagi Suriatun, angka 60 bukan sekadar angka.

Setiap angka mewakili seorang anak yang selama ini mungkin hanya terlihat sebagai anak yang sulit mengikuti pelajaran, terlalu aktif, mudah marah, atau tidak mau mengerjakan tugas.

Ia lalu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Enam siswa menunjukkan indikasi hambatan penglihatan.

“Karena yang mereka temukan itu matanya sering berair, kemudian dikucek-kucek merah, kemudian gampang lelah. Jadi awalnya gurunya mendudukkan di depan. Lama-lama dia proteku silau katanya, lebih baik di belakangan,” terangnya.

Ia mengirimkan surat rujukan ke Puskesmas Labuhan Haji. Ketika program pemeriksaan kesehatan berlangsung di sekolah, hasilnya menguatkan temuan awal. Suriatun kemudian mencari bantuan bagi anak-anak tersebut.

Enam siswa akhirnya memperoleh kacamata melalui bantuan program Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama Puskesmas Labuhan Haji.

Satu anak lainnya memilih tidak menerima bantuan karena keluarganya mampu membeli sendiri.

Tetapi setelah enam anak mendapat penanganan, Suriatun tidak menganggap persoalan selesai. Masih ada anak-anak lain.

Screening kembali dilakukan bersama Lombok Research Center (LRC), Inovasi, dan Universitas Hamzanwadi. Dari 53 siswa yang tersisa, 29 masuk tahap screening berikutnya.

“Dan hasilnya itu ada 9 orang, sisanya dari yang tadi, yang positif menjadi peserta didik dengan penyandang disabilitas. Pada kategori hambatan fungsional belajar,” ujarnya.

Memberikan Pengertian pada Orang Tua

Di sinilah Suriatun menghadapi tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan metode pembelajaran.

Sebagian orang tua belum siap menerima istilah disabilitas. Sebab, bagi banyak orang, disabilitas masih identik dengan kondisi fisik.

Padahal anak yang sulit membaca, mengalami hambatan komunikasi, memiliki persoalan perilaku sosial atau emosional juga membutuhkan perhatian yang berbeda.

Suriatun kemudian mengajak orang tua berbicara. Ia tidak ingin orang tua merasa sekolah sedang memberikan label kepada anak mereka. Ia ingin mereka memahami kebutuhan anak dan ikut membantu proses pendampingannya.

Kelas parenting pun berjalan. Pertemuan itu kemudian mereka jadwalkan setiap tiga bulan.

Dalam pertemuan tersebut, sekolah dan orang tua membicarakan hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian. Salah satunya penggunaan gawai di rumah.

“Ternyata setelah kita bertemu secara face to face dengan orang tuanya, memang pola asuh. Disitu yang bukan salah, tapi mungkin karena cara mereka mendidik mereka di rumah itu berbanding dengan apa yang kami sampaikan di sekolah,” ujarnya.

Di sekolah, anak-anak terbiasa menghentikan aktivitas ketika azan berkumandang. Namun, kebiasaan itu tidak selalu berjalan di rumah.

Orang tua kemudian mulai membuat aturan bersama anak tentang kapan mereka boleh menggunakan HP dan kapan harus melakukan aktivitas lain.

Perlahan, Suriatun melihat perubahan. Orang tua mulai mengabarkan perkembangan anak kepada guru. Guru juga terus memantau perubahan yang terjadi di sekolah.

Bagi Suriatun, pendidikan inklusi memang tidak selesai dengan mendeteksi seorang anak. “Setelah ini selesai pun, ini bukan akhir bagi kami,” katanya.

Setiap Anak Memiliki Cara Berbeda

Kalimat itu menggambarkan perjalanan Suriatun selama menjadi kepala sekolah.

Ia tidak hanya belajar mengenali hambatan belajar. Ia juga belajar bahwa setiap anak memiliki cara berbeda untuk berkembang.

Ada anak yang sulit menulis tetapi mampu menghafal banyak hal tentang bumi dan luar angkasa.

Ada pula anak yang memiliki cara bicara berbeda sehingga teman-temannya sempat mengejek. Setelah guru memahami perilakunya, sekolah justru melihat kemampuan lain yang dimiliki anak tersebut.

Pengalaman itu membuat Suriatun semakin yakin bahwa guru perlu mengenali anak sebelum menentukan cara mengajarnya.

Ia mendorong guru melakukan asesmen kognitif dan nonkognitif. Setelah mengetahui kemampuan dan gaya belajar siswa, guru dapat memilih metode yang sesuai.

Ia juga mendorong pembelajaran kooperatif agar siswa dengan kemampuan berbeda bisa belajar bersama.

Namun, ada satu hal yang menurut Suriatun tidak kalah penting dari metode pembelajaran. Kesabaran.

Guru perlu memiliki ketelatenan untuk mendampingi anak yang membutuhkan perhatian lebih.

“Mulai dulu dari masuk ke hati mereka. Kalau hubungan emosional sudah terjalin, insyaallah bagaimana pun kondisi anak, guru akan lebih mudah mendampinginya,” ujarnya.

Pengalaman itu pula yang membuat nama SDN 1 Teros kemudian lekat dengan pendidikan inklusi.

Pertanyakan Peran Sekolah Ramah Anak

Suriatun bahkan pernah mendapat anggapan bahwa sekolahnya merupakan sekolah khusus inklusi hanya karena menerima dan mendampingi siswa dengan kebutuhan yang beragam.

Baginya, anggapan itu justru menunjukkan bahwa pemahaman tentang inklusi masih perlu diperluas.

“Saya heran, bukannya kita semua sekolah kita sudah memiliki plang sekolah ramah anak. Di sekolah ramah anak itu kan disitu inklusifitas nomor satu, saya bilang,” tegasnya.

Menurut Suriatun, sekolah ramah anak semestinya membuka ruang yang setara bagi semua siswa. Bukan hanya bagi anak yang terlihat memiliki disabilitas.

Kini, Suriatun tidak lagi berdiri di depan kelas sebagai Kepala Sekolah SDN 1 Teros. Ia telah menjalankan tugas sebagai pengawas di UPT Dikbud Labuhan Haji. Perannya berubah. Namun, persoalan yang ia lihat tetap sama.

Saat memimpin sekolah tersebut, ia terkenal dengan julukan “Kepala Sekolah Inklusi” karena kepeduliannya terhadap pendidikan inklusif.

“Awal dari itu, bisa disebut viral itu, saya disebut sebagai Kepala sekolah inklusi. Saya mendapat dua siswa pindahan, itu gurunya langsung yang gitu katanya. Sekolahkan aja dia di satu teros katanya, itu kan sekolah inklusi,” ujarnya.

Bedanya, dulu ia memikirkan satu sekolah. Sekarang ia membawa pengalaman itu ke sekolah-sekolah yang menjadi binaannya. Ia ingin sekolah tidak menunggu sampai persoalan anak menjadi besar.

Jika ada anak yang kesulitan membaca, sulit mengikuti pembelajaran, mengalami hambatan komunikasi, atau menunjukkan perubahan perilaku, sekolah perlu mencari tahu lebih awal.

Bukan menyembunyikannya. Bukan pula menganggapnya sebagai kenakalan biasa.

“Kalau ada yang begitu, cepat-cepat kasih tahu. Kita deteksi awal. Paling tidak pertolongan apa yang bisa kita berikan dulu,” kata Suriatun.

Bagi perempuan yang pernah mendapat julukan sebagai kepala sekolah inklusi itu, perjalanan tersebut akhirnya membawanya pada pemahaman sederhana, inklusi bukan hanya tentang menerima anak dengan disabilitas di sekolah.

Inklusi dimulai ketika sekolah mau melihat seorang anak secara utuh. Melihat kesulitannya, memahami kebutuhannya, sekaligus menemukan kemampuan yang mungkin selama ini tertutup oleh label “tidak bisa”. (*)

Artikel Terkait