Pemicu Kecelakaan, Warga Protes Proyek Jalan Lendang Re Sekotong Macet
Lombok Barat (NTBSatu) – Proyek pembangunan jalan Lendang Re- Menjot di Kecamatan Sekotong menuai sorotan. Alih-alih memberikan kenyamanan, kondisi jalan yang belum diaspal justru dinilai semakin membahayakan pengguna. Bahkan memicu kecelakaan hampir setiap hari.
Ketua Laskar Sementon Sasak, Maisun mengungkapkan, proyek dengan nilai anggaran sekitar Rp6,5 miliar tersebut seharusnya bisa rampung dalam waktu singkat. Namun hingga kini, jalan tersebut justru terbengkalai tanpa kejelasan penyelesaian.
“Ini akhir tahun 2025 sekitar Rp6,5 miliar di RAB-nya. Penyelesaiannya mungkin sekitar tiga bulan, tapi sampai hari ini jalan ini mangkrak,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu, 26 April 2026.
Menurutnya, kondisi jalan yang hanya dilapisi kerikil tanpa pengerasan membuat permukaan menjadi licin dan berbahaya, terutama di jalur tanjakan dan tikungan ekstrem. Bahkan, ia menyebut insiden kecelakaan kerap terjadi hampir setiap hari.
“Kalau motor bisa dikatakan setiap hari dia jatuh karena kerikil yang ada itu berserakan di sini. Kondisinya juga jurangnya luar biasa,” tambahnya.
Maisun juga menyebut, sebelum adanya proyek perbaikan, kecelakaan memang pernah terjadi, namun jumlahnya tidak sebanyak saat ini. Ia menilai, kondisi jalan justru semakin parah setelah dilakukan pengerjaan awal tanpa penyelesaian lanjutan.
“Setelah diperbaiki lebih ekstrem lagi. Karena kerikil-kerikil ini belum pengerasan, baru dikasih kerikil lalu dibiarkan begitu saja,” katanya.
Kelangkaan Aspal Jadi Penyebab
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas PUPRPKP Lombok Barat, Lalu Ratnawi, memastikan bahwa proyek tersebut tetap akan diselesaikan meski sempat mengalami kendala di lapangan.
“Pelaksanaan pekerjaan pembangunan jalan Lendang Re- Menjot tetap akan diselesaikan, walaupun pekerjaan sempat dihentikan sementara karena cuaca ekstrem yang mengakibatkan banjir dan tanah longsor di beberapa titik di Kecamatan Sekotong,” jelasnya kepada NTBSatu, Minggu, 26 April 2026.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berdampak pada kerusakan ulang di sejumlah titik yang sebelumnya telah dikerjakan. Selain itu, keterbatasan material juga menjadi faktor penghambat utama.
“Saat ini penyedia dalam tahap persiapan untuk melakukan pengaspalan namun terkendala dengan kondisi kelangkaan aspal yang limit di NTB saat ini yang menyebabkan pekerjaan tertunda,” ungkapnya.
Status Tender Telah Selesai
Selain itu, ada satu fakta mencengangkan terkait dengan proyek ini. Dalam data laporan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Lombok Barat, status tender proyek ini sudah dianggap selesai sejak 10 November 2025 yang lalu.
Padahal, proyek ini menggunakan pagu anggaran dari APBD Perubahan 2025 sebesar 6,8 Miliar rupiah. Fakta ini seharusnya menjadi dorongan untuk pemerintah daerah agar segera mengevaluasi dan menyelesaikan proyek tersebut. (Zani)



