Lombok Timur

Ketika Gotong Royong Mulai Terasa Berat di Sembalun

Lombok Timur (NTBSatu) – Di balik keindahan pariwisata, Masyarakat Sembalun di bawah kaki Gunung Rinjani sedang berhadapan dengan pergeseran makna dalam tradisi gotong royong.

Praktik langar dan begawe yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kohesi sosial, perlahan mulai terasa sebagai beban ekonomi nyata bagi sebagian warga di tengah perubahan zaman.

Gotong royong yang sehat adalah yang menguatkan, bukan melemahkan. Itu merupakan refleksi atas kondisi sosial yang kini menuntut adanya adaptasi aturan yang lebih berpihak pada keadilan sosial.

Ruang Silaturahmi Tanpa Vendor

Secara harfiah, begawe dipahami sebagai pesta keluarga atau perayaan, seperti pernikahan dan khitanan yang pada dasarnya membutuhkan kerja kolektif berskala besar.

Dalam tradisi ini, tidak ada keterlibatan vendor profesional atau katering. Seluruh pekerjaan mulai dari menyembelih hewan, memasak, hingga melayani tamu, dilakukan secara bergantian oleh warga sekitar.

Praktik ini mempertegas identitas sosial masyarakat Sembalun, kebersamaan merupakan praktik nyata bukan hanya sekadar konsep abstrak. Sering kali sebagai momentum saat kerabat jauh pulang kampung atau saat keluarga besar berkumpul kembali dalam satu hamparan tikar, guna merawat ikatan kekeluargaan.

Dilema Standardisasi Sosial

Namun seiring dengan meningkatnya biaya hidup, aspek timbal balik dalam gotong royong ini mulai memicu tekanan. Munculnya standarisasi mengenai besaran sumbangan atau kemewahan acara, menjadi beban moral bagi keluarga kurang mampu secara ekonomi.

Salah satu warga setempat bernama Amaq atau Bapak Albar mengaku, merasakan betul bagaimana pergeseran ini membebani masyarakat bawah.

“Dulu kita bantu tenaga dan apa adanya sudah cukup, yang penting ikhlas. Sekarang kalau tidak sesuai standar lingkungan, rasanya jadi beban pikiran. Gotong royong yang harusnya meringankan, malah bikin kita harus putar otak cari pinjaman,” ujarnya, Kamis, 23 April 2026.

Harapan sosial yang tinggi terkadang memaksa warga untuk meminjam uang, demi menjaga gengsi atau memenuhi standar komunitas. Kondisi ini semakin ironis, karena terjadi di tengah perjuangan warga memenuhi kebutuhan pokok harian mereka.

Menuju Tradisi yang Adaptif

Upaya untuk merawat tradisi ini ke depan membutuhkan pendekatan yang lebih transparan dan fleksibel. Standarisasi harusnya tidak berarti mengurangi makna kebersamaan, tetapi memastikan kontribusi akan menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi warga.

Dengan adanya penguatan aturan sosial yang lebih ramah bagi semua lapisan, harapannya tradisi begawe tetap hidup dan menjadi sumber kebanggaan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang kebersamaan yang membahagiakan.

Adaptasi ini penting guna menjaga budaya lokal, agar mampu bertahan mengikuti perubahan zaman tanpa mengorbankan kesejahteraan anggotanya. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button