Saat Laptop Pribadi Guru Jadi Penyelamat Ujian Siswa di Mataram
Mataram (NTBSatu) – Pada pelaksanaan asesmen siswa kelas 6 sekolah dasar di Kota Mataram tahun ini, tersimpan kisah dedikasi yang tak banyak terlihat.
Keterbatasan perangkat digital di sejumlah sekolah tidak menghentikan jalannya ujian. Justru dari situ muncul inisiatif para guru yang rela meminjamkan laptop pribadi mereka demi memastikan seluruh siswa tetap dapat mengikuti asesmen.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Yusuf, mengungkapkan pelaksanaan asesmen berbasis digital masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal ketersediaan perangkat di tingkat sekolah.
“Memang masih ada keterbatasan fasilitas di beberapa sekolah. Tidak semua memiliki jumlah komputer atau laptop yang memadai untuk pelaksanaan asesmen secara bersamaan,” ujar Yusuf, Senin 20 April 2026.
Namun demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta menjadi hambatan. Para guru di berbagai sekolah mengambil langkah konkret dengan memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki secara pribadi. Laptop yang sehari-hari mereka gunakan untuk menunjang pekerjaan mengajar, kini beralih fungsi menjadi sarana utama bagi siswa dalam mengikuti ujian.
“Bapak dan ibu guru meminjamkannya. Itu yang banyak terjadi di lapangan. Jadi siswa tetap bisa ikut asesmen meskipun perangkat sekolah terbatas,” kata Yusuf.
Berbagi Perangkat, Mengatur Harapan
Keterbatasan jumlah perangkat memaksa sekolah untuk melakukan penyesuaian teknis. Sistem pembagian sesi menjadi solusi yang paling banyak diterapkan. Dalam satu hari, ujian bisa berlangsung dalam beberapa gelombang agar seluruh siswa mendapat giliran.
“Kalau sekolah punya 10 unit tentu cukup membantu. Tapi kalau hanya lima unit, maka harus kita bagi dalam beberapa sesi sesuai jumlah siswa,” jelas Yusuf.
Meskipun metode ini menuntut pengaturan waktu yang lebih panjang dan koordinasi yang lebih ketat, pelaksanaan asesmen tetap berjalan lancar. Peran guru tidak hanya berhenti pada penyediaan perangkat, tetapi juga mendampingi siswa dalam proses pelaksanaan, terutama bagi mereka yang belum terbiasa menggunakan perangkat digital.
Semangat Siswa di Tengah Keterbatasan
Saat tengah situasi yang serba terbatas, semangat siswa justru tidak surut. Mereka tetap antusias mengikuti asesmen, sebab hasil yang diperoleh memiliki arti penting bagi jenjang pendidikan selanjutnya.
Asesmen ini tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga memberikan sertifikat resmi yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu syarat dalam seleksi masuk ke sekolah menengah pertama melalui jalur prestasi.
“Anak-anak tetap semangat karena mereka tahu ini penting. Sertifikatnya nanti bisa digunakan untuk jalur prestasi saat masuk SMP,” ungkap Yusuf.
Upaya kolektif antara sekolah, guru, dan dinas pendidikan membuahkan hasil yang signifikan. Tingkat partisipasi siswa dalam asesmen tercatat sangat tinggi. Untuk sekolah negeri, angka partisipasi bahkan telah mencapai 100 persen, sementara secara keseluruhan di Kota Mataram berada di kisaran 98 persen.
“Alhamdulillah, untuk sekolah negeri partisipasinya sudah 100 persen. Secara total kita di angka sekitar 98 persen. Ini menunjukkan komitmen semua pihak,” kata Yusuf. (*)



