Pendidikan

Terkendala Moratorium BPP, SMAN 1 Gerung Tetap Torehkan Prestasi hingga Nasional

Mataram (NTBSatu) – SMAN 1 Gerung, Lombok Barat, mencatat berbagai prestasi di tingkat daerah hingga nasional dalam satu tahun terakhir.

Namun di tengah capaian tersebut, sekolah menghadapi tantangan akibat kebijakan moratorium Biaya Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) yang berdampak pada pembinaan siswa hingga kesejahteraan tenaga pendidik.

Kepala SMAN 1 Gerung, M. Ridwan Helmi melalui Wakil Kepala Bidang Humas, Sudirman mengatakan, sekolah terus memaksimalkan program pembinaan akademik. Termasuk, persiapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) serta pengembangan menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri.

“Pembinaan UTBK tetap berjalan dan kami juga menyiapkan diri menuju Adiwiyata Mandiri,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 13 April 2026.

Di bidang akademik, sekolah rutin menggelar pembinaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N). Kegiatan pembinaan tersebut hampir setiap minggu sebagai upaya meningkatkan kompetensi siswa.

Dari program itu, SMA Negeri 1 Gerung berhasil meraih sejumlah prestasi, termasuk juara umum pada ajang Karya Ilmiah Remaja (KIR) tingkat nasional di Yogyakarta. Selain itu, beberapa siswa juga melaju ke tingkat nasional pada OSN bidang Informatika dan Ekonomi sebagai wakil Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Alhamdulillah meningkat, bahkan KIR tingkat nasional kami meraih juara umum,” kata Sudirman.

Prestasi Siswa SMAN 1 Gerung

Prestasi juga datang dari bidang non-akademik. Wakil Kepala SMAN 1 Gerung Bidang Kesiswaan, Ahmad Yani menyebut, siswa aktif dalam sekitar 40 ekstrakurikuler yang berjalan dengan pembinaan rutin.

“Anak-anak juga banyak prestasi. Ada juara 1 Miss & Mister NTB, kemudian di Pekan Olahraga Pelajar mereka meraih emas, perak, dan perunggu di cabang Taekwondo,” ujarnya.

Ia menambahkan, siswa SMA Negeri 1 Gerung juga meraih medali emas pada kejuaraan karate tingkat Lombok Tengah dan NTB. Selain itu, satu siswa tengah dipersiapkan untuk mengikuti ajang nasional cabang renang setelah lolos seleksi dan kini menjalani karantina.

“Sekarang dia menjalani karantina, atas nama Aninditya Putri Asih kelas XI, persiapan Porprov,” kata Ahmad Yani.

Ia menambahkan, peningkatan jumlah siswa yang lolos SNBP juga meningkat dari tahun sebelumnya, dari 32 menjadi 42 orang.

Dampak Kebijakan Moratorium BPP

Namun, di balik berbagai capaian tersebut, pihak sekolah mengakui kebijakan moratorium BPP turut berdampak pada kegiatan pembinaan dan operasional sekolah. Sudirman menyebut, kebijakan itu menghapus honor pembina ekstrakurikuler serta insentif untuk tugas tambahan guru.

“Honor pembina ekstrakurikuler sudah tidak ada lagi. Tugas tambahan juga tidak ada insentif,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dan partisipasi dalam berbagai lomba non-reguler, harus disesuaikan dengan keterbatasan anggaran sekolah. Hal serupa juga dirasakan dalam pembinaan siswa di sejumlah bidang.

Di sektor tenaga pendidik, Sudirman menjelaskan, seluruh guru non-ASN saat ini berstatus PPPK Paruh Waktu dengan penghasilan sekitar Rp500 ribu berdasarkan SK. Ia menilai, kondisi ini berdampak pada kesejahteraan guru setelah hilangnya tambahan dari BPP.

“Kalau dulu ada tambahan dari BPP, sekarang murni gaji. Ini sangat berdampak pada kesejahteraan,” ujarnya.

Saat ini, SMA Negeri 1 Gerung memiliki 1.217 siswa menjadikannya salah satu sekolah dengan jumlah peserta didik terbesar di Lombok Barat, setelah SMAN 1 Narmada. Dari sisi fasilitas, sekolah memastikan sarana dan prasarana seperti laboratorium, ruang kelas, hingga fasilitas olahraga terpenuhi melalui dukungan dana BOS.

Pelaksanaan Ujian Sekolah (US) tahun ini juga berjalan lancar dengan sistem digital menggunakan platform Pijar, diikuti 382 siswa tanpa kendala berarti.

Visi SMAN 1 Gerung

Di tengah capaian dan tantangan tersebut, SMA Negeri 1 Gerung tetap mengusung visi “Terwujudnya Sekolah Unggul dengan Generasi Beriman, Berakhlak Mulia, Berprestasi, Berwawasan Lingkungan, dan Mendunia.”

Sekolah ini juga mengembangkan program khas seperti Tahfiz Al-Qur’an, pembinaan Insan Rabbani. Serta, kajian kitab kuning yang menjadi pembeda dari sekolah umum lainnya.

Untuk penguatan lingkungan, sekolah menjalankan program bank sampah dan gerakan zero waste. Siswa secara rutin memilah sampah organik dan anorganik yang kemudian diolah menjadi pupuk.

“Itu rutin setiap hari, semua murid akan mengumpulkan sampah di kelasnya lalu mereka bawa ke bank sampah untuk diolah,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihak sekolah berharap adanya perhatian lebih terhadap kebijakan pembiayaan pendidikan dan kesejahteraan guru. Agar kualitas pembinaan serta prestasi siswa dapat terus berlanjut secara optimal. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button