Kongres IMAKIPSI di Mataram Soroti Peran Guru dan Mahasiswa dalam Membangun SDM Unggul
Mataram (NTBSatu) – Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia (IMAKIPSI), menggelar kongres nasional di Kota Mataram.
Agenda kongres mulai hari ini, Senin, 13 April 2026. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB, Syamsul Hadi mewakili Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal membuka secara langsung Kongres IMAKIPSI tersebut.
Dalam penyampaiannya, Syamsul Hadi menekankan pentingnya refleksi dalam menyusun langkah ke depan, khususnya dalam menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045. Menurutnya, untuk mencapai visi tersebut, tidak luput dari peran para guru atau tenaga pendidik.
Di sisi lain, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Ia menyebut, ada tiga aspek penting yang harus menjadi perhatian. Di antaranya: keimanan, pengetahuan, dan inovasi.
“Kita harus memiliki akhlak yang baik, kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan mengantisipasi dinamika zaman,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Gunung Rinjani (UGR), Dr. Basri Mulyani menyampaikan, kongres bukan saja tentang pergantian dan perpindahan posisi dalam suatu organisasi. Menurutnya, proses ini adalah hal wajar dalam sebuah organisasi. Sehingga ia meminta, agar memaknai seluruh proses ini secara positif.
“The right man in the right place. InsyaAllah dengan penempatan yang tepat, maka akan berjalan cepat pula. Bahkan berlari, menuju cita-cita besar dan mimpi dari masing-masing kepemimpinan,” kata Dr. Basri.
Ia juga menyoroti posisi mahasiswa, khususnya dari bidang keguruan dan ilmu pendidikan yang menempati posisi penting sebagai calon pendidik, yang akan berada di garda terdepan dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas.
“Mahasiswa ilmu pendidikan dituntut memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang kuat. Sekaligus mampu memahami berbagai persoalan dalam sistem pendidikan,” ujarnya.
Harus Sejalan dengan Semangat Transformasi Pendidikan
Ia juga berharap, mahasiswa pendidikan berperan aktif dalam mendorong inovasi pembelajaran, penyelesaian persoalan literasi, pemerataan akses pendidikan, serta penguatan karakter peserta didik di berbagai jenjang. Sejalan dengan semangat transformasi pendidikan dari “Kampus Merdeka” menuju “Kampus Berdampak”.
Ia berharap, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai pusat solusi atas persoalan sosial. Tridarma perguruan tinggi juga ditekankan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan harus terhubung dengan realitas masyarakat.
“Melalui Gerakan Kampus Berdampak, universitas mendorong agar perguruan tinggi tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menghadirkan solusi,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan pandangan kritisnya tentang pendidikan. Ia merujuk pada gagasan Paulo Freire yang menekankan pendidikan sebagai praktik pembebasan. Di mana menolak pendidikan yang sekadar transfer pengetahuan, dan mendorong model pendidikan dialogis yang membangun kesadaran kritis serta keberpihakan pada kemanusiaan.
“Menurut Freire, pendidikan harus mampu membebaskan individu dari penindasan melalui kemampuan berpikir kritis, memahami realitas sosial, serta mendorong aksi nyata untuk perubahan yang lebih adil dan humanis,” jelasnya.
Terakhir ia berharap, melalui kongres mahasiswa ini bisa menjadi wadah pembentukan karakter dan kepemimpinan. Ia menyebut, dinamika perbedaan pendapat yang muncul sebagai simulasi kehidupan berbangsa.
“Mahasiswa ditantang untuk menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah, serta menjunjung tinggi integritas dalam proses pengambilan keputusan,” tutupnya. (*)



