Pusat Perbelanjaan Kota Mataram Rawan Anjal dan Gepeng
Mataram (NTBSatu) – Kawasan belanja Mataram Mall dan pusat perbelanjaan My Style, kini tengah dalam radar serius Dinas Sosial Kota Mataram.
Hal ini menyusul banyaknya aduan masyarakat, serta hasil pantauan lapangan mengenai maraknya Anak Jalanan (Anjal) dan Gelandangan Pengemis (Gepeng) yang kerap meresahkan pengunjung.
Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Muzakkir Walad mengungkapkan, pihaknya kini melakukan konversi tugas terhadap Satuan Tugas (Satgas) sosial untuk berkonsentrasi di titik-titik rawan tersebut.
“Kami mengonversikan tugas teman-teman Satgas yang sudah kita bagi di beberapa titik. Radius yang dekat dengan Mataram Mall dan My Style kita tarik ke sana. Sekitar 5 sampai 10 orang kita konsentrasikan di situ, karena memang agak sering terjadi,” ujar Muzakkir Walad, Senin, 6 April 2026.
Anak-anak Lokal dan Modus Paksa
Berdasarkan hasil pelacakan, Dinas Sosial menemukan fakta, fenomena anjal di kawasan Mataram Mall dan My Style melibatkan anak-anak yang sebenarnya merupakan warga setempat atau warga sekitar lokasi tersebut.
Meskipun mereka adalah warga lokal, tindakan mereka tetap menjadi atensi karena adanya laporan perilaku yang mengganggu kenyamanan publik.
“Kalau yang anak-anak kecil itu memang rata-rata dari sana. Yang bawa jual tisu terus agak sedikit memaksa, itu yang jadi keluhan pengunjung di sana. Kami coba identifikasi dulu, kalau memang itu ada, kita tegur dan tindak. Kami juga koordinasi dengan pihak manajemen, karena pengunjung yang keberatan karena dipaksa atau kadang sampai dimaki-maki,” tambahnya.
Pendatang dan Digitalisasi Rekam Jejak
Berbeda dengan kelompok anak-anak lokal, kelompok “Badut” dan “Manusia Silver” justru mayoritas berasal dari luar daerah. Muzakkir menyebut, ada yang berasal dari Solo, Jawa Tengah, dan kini menetap di kawasan Sandubaya atau Bertais.
Untuk mengatasi hal ini agar tidak terjadi residu atau kejadian berulang, Dinas Sosial Mataram mulai menerapkan sistem digitalisasi rekam jejak.
“Melalui digitalisasi itu tujuannya adalah untuk ada rekam jejak. Jadi yang bersangkutan sudah berapa tahun kita bina, sudah sampai mana rujukannya, itu terekam. Jadi tidak terjadi residivis atau kejadian berulang,” tegas Muzakkir.
Selain kawasan Mataram Mall dan My Style, Dinas Sosial juga memetakan beberapa titik lain yang memiliki kerawanan tinggi terhadap aktivitas anjal dan gepeng. Di antaranya, Kawasan Airlangga, Islamic Center, dan perempatan Tanah haji
“Saat ini, sebanyak 68 personel Satgas telah disebar secara bertahap untuk melakukan pemantauan intensif. Guna memastikan kenyamanan publik di Kota Mataram tetap terjaga,” tutup Muzakkir. (*)



